Wednesday, March 27, 2013

Pahala Membaca Tasbih dan Tahmid

Cukuplah dari sekian banyak hadits, kalau tidak salah ada 7 buah hadits yang mendasari dari postingan ini, yaitu keutamaan dan ganjarannya dari membaca tasbih dan tahmid.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya:
"Siapa yang mengucapkan: Subhanallah wa Bihamdihi (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka dihapuskan segala kesalahan (dosa)-Nya walaupun sebanyak buih dilaut."
(Muttafaq 'alaih)

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam menjelaskan tentang fadhilahnya,
"Maka barangsiapa yang menyucikan Allah (bertasbih) dan memuji-Nya (tahmid) sebanyak 100 kali pada pagi dan petang hari, niscaya mereka akan memperoleh pahala yang sangat besar; berupa diampuninya seluruh dosa dan kesalahannya meskipun jumlahnya amat banyak seperti buih di lautan. Hal ini adalah merupakan keutamaan yang mulia dan pemberian yang melimpah."

Beliau melanjutkan,
"Para ulama menyempitkan makna dari dosa-dosa yang akan diampuni dengan zikir ini, yaitu dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali taubat nasuha. Tetapi Imam al-Nawawi berkata: apabila seseorang tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka diharapkan zikir tersebut dapat meringankan dosa-dosa besar yang telah ia lakukan."

Kesimpulannya:
Barangsiapa yang menyucikan Allah (bertasbih) dan memuji-Nya (tahmid) sebanyak 100 kali pada pagi dan petang hari, niscaya mereka akan memperoleh pahala yang sangat besar, berupa diampuninya seluruh dosa dan kesalahannya meskipun jumlahnya amat banyak seperti buih di lautan.

Sunday, March 24, 2013

Ketegasan Jusuf Kalla Tentang Adanya Masjid di Tiap Kantor

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, adalah merupakan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Beliau mengadakan tanya jawab tentang soal toleransi beragama di hadapan berbagai macam lapisan agama di tanah air.
Saya sangat tersentuh dengan ucapan beliau tentang ketegasan jawaban yang diberikan menanggapi adanya masjid pada tiap-tipa kanot instansi pemerintahan.

Berikut ini kutipan lengkap kisah Jusuf Kalla yang berani bersikap tegas di hadapan para pendeta.

Jumat sore kemarin (1/3/2013), Pak Jusuf Kalla memimpin rapat DMI.
Sehabis Magrib beliau cerita bahwa baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja dihadapan 700 pendeta.




2 Pertanyaan dengan Jawaban Tegas

Dalam sesi tanya jawab ada yang tanya tentang gereja di GKI Yasmin di Bogor beliau menjawab,
"Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?"

"Toleransi itu kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota," begitu khasnya Jusuf Kalla dengan nada yang tinggi.

Kemudian Jusuf Kalla bercerita lagi, bahwa dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya.
"Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?"

Dengan tegas JK menjawab,
"Justru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar; Jum’at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen," tegas Jusuf Kalla.

Tentu saja kisah Jusuf Kalla yang begitu berani mengambil sikap tegas itu jelas membuat kagum umat Islam yang mendengarnya. Namun demi memperoleh kebenaran cerita tersebut jurnalis voa-islam.com mengkonfirmasi ustadz Fahmi Salim yang turut serta dalam rapat DMI bersama Jusuf Kalla.

Sumber:
voa-islam.

Saturday, March 23, 2013

Hanya Agama Islam yang Memuliakan Wanita

Inilah nasib para wanita dijaman dahulu. Di Yunani, wanita hanya dianggap sebagai pemuas nafsu biologis saja. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka memperjual belikan wanita selayaknya hewan.

Mengubur Bayi Wanita Hidup-Hidup

Hal yang sama juga terjadi di peradapan Arab Jahiliyyah kuno. Dalam Alquran surat Al-Nahl ayat 58 diceritakan bahwa ketika seorang ayah dikabari bahwa istrinya telah melahirkan anak perempuan, maka suaminya tersebut akan merah padam mukanya menahan marah merasa malu. Mereka lalu mengubur hidup-hidup bayi tersebut.

Allah SWT berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Artinya:
"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah."
(QS. An-Nahl:58).

Mereka menganggap anak perempuan sebagai aib keluarga, manusia yang membebani, dan bukan manusia produktif yang dapat bermanfaat bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.


Ketika Islam Datang

Ketika Islam datang, wanita akhirnya termuliakan. Hal ini bahkan tertulis jelas dalam beberapa ayat suci Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Keberadaan dan hak- hak wanita akhirnya diakui.

Akhirnya, wanita mendapatkan hak yang sama dengan laki- laki. Mereka tidak perlu repot- repot memperjuangkan persamaan hak seperti yang banyak dilakukan wanita barat sekarang ini. Wanita dalam islam diberikan wilayah tersendiri untuk berjuang. Dan ketika wanita mantab untuk tetap berjuang di wilayah mereka, bukan berarti wanita menjadi rendah dari pada laki- laki.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[a] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. An-Nahl : 97)

Penjelasan ayat:
[a] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Bukti pemuliaan Islam kepada kaum wanita

Bukti pemuliaan Islam kepada kaum wanita lainnya adalah pengakuan Islam bahwa setiap orang baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk berprestasi.

Dalam Alquran surat An-Nisa ayat 32, Allah berfirman,

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ٣٢

Artinya:
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
(QS. An-Nisa': 32).

10 Manfaat Dari Puasa Menurut Islam

Puasa selain bermanfaat untuk ketenangan jiwa agar terhindar dari stres, juga dapat menyehatkan badan dan dapat membantu penyembuhan bermacam penyakit.

Islam sendiri menyatakan bahwa manfaat puasa lebih banyak terlihat dari sisi kesehatannya.
Bahkan menurut penelitian bahwa orang yang melaksanakan puasa akan menjadi awet muda dari sisi fisik maupun mental.
Dengan berpuasa badan akan menjadi sehat dan sekaligus berpahala, siapa yang tidak mau.


10 khasiat dari berpuasa


1. Lebih mampu mengendalikan seks.

2. Membuat badan sehat dengan sendirinya.

3. Mengendorkan ketegangan jiwa.

4. Menajamkan fungsi indrawi.

5. Memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri.

6. Memperlambat proses penuaan.

7. Merasa lebih baik secara fisik dan mental.

8. Melihat dan merasa lebih muda.

9. Membersihkan badan.

10. Menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.

Thursday, March 21, 2013

3 Khasiat Membaca Surat Al-Kahfi Berdasar Hadits

Kata sohib saya, hari Jumat adalah Hari yang paling Mubarok.
Banyak keistimewaan pada hari itu, misalnya saja adalah dengan membaca Surat Al-Kahfi salah satu tindakan yang mudah untuk dilaksanakan dan sekaligus mendapat banyak manfaat.

Hari Jumat yang dimaksud adalah malamnya atau siang harinya.
Memang khususnya hari Jumat tapi kalau dibaca pada hari lainnya juga akan makin bagus dan berpahala.






Dalil Hadits

Rasulullah SAW bersabda,


لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Artinya:
"Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian."
(HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)


Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . . "
(HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)





3 Khasiat Membaca Surat Al-Kahfi Berdasar Hadits


1. Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq."
(Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)



2. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

ArtinyaL
"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at."
(HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, "Hadits hasan."

3. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

Artinya:
"Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat."
(Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Wednesday, March 20, 2013

Bolehkah Kerudung Wig Dipakai Muslimah?

Kerudung wig adalah kerudung yang dibuat seperti rambut. Dibuat sedemikian rupa agar menyerupai bentuk rambut si muslimah tadi. Apa dianggapnya kerudung model-model biasa sudah terasa kuno atau gimana, saya tidak tahu alasan sebenarnya.
Tapi menurut perintah Allah SWT, namanya kerudung adlah untuk menutupi aurat, bukan ada maksud lainnya, sperti agar trendi, agar cantik dan sebagainya.



Bukankah Wanita Itu terlahir sudah dalam keaadaan cantik

AGAMA islam melindungi kecantikan itu supaya tetap terjaga dan MULIA.
Karena itulah Allah memerintahkan para muslimah untuk menutup aurat mereka, dan bukan justru bersolek diluar rumah untuk dilihat laki- laki yang bukan mahram, meskipun dengan menggunakan kerudung mereka.

Allah SWT berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  ٣١

Artinya:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(QS Nn-Nur [24]: 31)

Dari ayat tersebut, sudah cukup menjelaskan kepada kita, bahwa kerudung adalah digunakan sebagai penutup, dan bukan alat untuk berhias.

Jadi jika kita masih mencoba mengutak atiknya dengan alasan bahwa agar para muslimah tidak ketinggalan jaman, hal itu sama saja kita memberikan statement bahwa perintah Allah adalah kurang masuk akal.
Astagfirullah... siapa yang lebih tahu kebutuhan manusia dari pada Allah yang maha kuasa sahabat...





Kreativitas memang diperlukan dalam hidup manusia


Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata fitnah para musuh islam tidak berhenti begitu saja untuk menghancurkan islam.
Mereka bentuk para muslimah untuk menjadi boneka dari tren fashion yang mereka gembor- gemborkan.

Mereka berdalih dengan membuat istilah kerudung modern dan kerudung konvensional alias kuno. Karena itulah, kreasi kerudung dengan berbagai gaya hadir menyemarakkan tren berbuasana wanita.
Mereka menyebar godaan bahwa berbagai kreasi itu, membuat wanita tampil cantik dan elegan dengan tetap kerudung.

Alasan Kreativitas dan Menghilangkan Rasa Bosan

Kreativitas manusia sebenarnya perlu yang berguna untuk merefreshkan pikiran dan indra manusia yang rentan dengan rasa yang bernama bosan. Tapi bagaimana jika area konstan pun harus diutak atik atas nama seni dan keindahan.
Seperti yang baru- baru ini terjadi, yaitu tren baru berkerudung bagi wanita, yang bernama kerudung Wig, ya janganlah..

Dengan Alasan selera dan rasa bosan, kerudungpun diutak-atik dan diubah sehingga menyerupai rambut.
Produk baru ini tentu saja disertai harapan agar para wanita yang memang lebih memaknai kerudung sebagai perhiasan tertarik dan berminat untuk mengenakannya.

Wallahu A'lam.

Tuesday, March 19, 2013

6 Adab dan Bacaan Sebelum Tidur

Islam adalah agama yang lengkap sekali dalam menjelaskan tata krama, contohnya adalah dalam hal sebelum tidur. Sebelum tidur kita, umat Islam dianjurkan untuk melakukan hal-hal dibawah ini dengan tujuan agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk.
Yang utama adalah janganlah sampai kita tidur lupa yang namanya berdoa sobat.


Adab dab Bacaan Sebelum Tidur


  1. Wudhu Dulu Sebelum Tidur.
  2. Berbaring Pada Sisi Kanan.
  3. Meniup Kedua Telapak Tangan Sambil Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, masing-masing Sekali.
  4. Mengusapkan Kedua Telapak Tangan Tersebut Ke Wajah dan Bagian Tubuh yang Dapat Dijangkau Sebanyak Tiga Kali.
  5. Membaca Ayat Kursi.
  6. Membaca Do'a Sebelum Tidur.


Doa Sebelum Tidur


بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ

(Bismikallahumma ahya wa amuut).

Artinya :
Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati.

Doa ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad SAW bersabda,

عَنْ حُذَيْفَةَ وَأَبِىذَرٍّ رَضِىَاللّهُعَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَاأَوَى إِلىَ فِرَاشِهِ قَالَ : بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ ، وَإِذَااسْتَيْقَظَ قَالَ : اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ

Artinya :
Hudzaifah r.a. dan Abu Dzarr keduanya berkata : Adalah Rasulullah saw. jika akan tidur membaca : bismikallahumma ahya wa amutu (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati), dan apabila bangun tidur membaca ; alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit). (HR. Bukhari)

Wallahu A'lam...

Monday, March 18, 2013

Hal yang Menghalangi Khusyuknya Shalat

Seorang muslim ditutut untuk memahami betul apa ucapan dan gerakannya saat shalat.
Ia harus memahami dan merenungi setiap bacaan, zikir, dan doanya. Hatinya harus hadir bermunajat langsung dengan Allah SWT seolah-olah ia melihat-Nya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat ia bermunajat kepada Rabb-nya.

Khusyu' merupakan inti dan ruhnya shalat. Ia menentukan kesempurnaan pahalanya. Maka jika tidak ada kekhusyu'an atau berkurang sebagiannya, maka berkurang pula pahala shalat. Oleh karenanya, Nabi kita Muhammad SAW memperingatkan persoalan ini dalam sebuah hadits shahih berikut ini.


Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلاتِهِ , وَمَا كُتِبَ لَهُ مِنْهَا إِلا عُشْرُهَا ، أَوْ تُسْعُهَا ، أَوْ ثُمْنُهَا ، أَوْ سُبْعُهَا ، أَوْ سُدْسُهَا ، أَوْ خُمْسُهَا ، أَوْ رُبْعُهَا ، أَوْ ثُلُثُهَا ، أَوْ نِصْفُهَا

"Sesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya dan dia tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya."
(Muyskil al-Atsar milik Al-Thahawi. Abu Dawud meriwayatkan yang serupa dalam Sunannya yang dihassankan Syaikh Al-Albani)

Para ulama menjelaskan, seseorang yang selesai dari mengerjakan shalat dan tidak mendapatkan pahala dari shalatnya tersebut kecuali sepersepuluh pahalanya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya dan seterusnya. Ini memberikan makna, sulit sekali untuk mendapatkan kekhusyu-an. Maka wajarlah jika Allah menyifati orang-orang beriman yang mendapatkan keberuntungan adalah mereka yang khusyu' dalam shalatnya.




Allah SWT berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya."
(QS. Al-Mukminun: 1-2)

Para ulama telah menjelaskan kiat-kiat agar khusyu' dalam shalat; apa saja yang bisa membantu hadirnya kekhusyu-an dan apa saja yang bisa menghilangkan dan melemahkannya.

Di antara sebab utama seseorang kehilangan kekhusyu-an dalam shalatnya, yaitu:

Hati sibuk dengan memikirkan urusan selain shalat saat mengerjakan shalat.
Padahal saat memulai shalat ia diingatkan dengan zikir yang paling agung, yaitu Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Ini seolah-olah ia diingatkan bahwa di sana tidak ada urusan yang lebih penting dan lebih besar dari Allah Ta'ala.
Selain-Nya adalah kecil dan harus dikalahkan dengan urusan yang sedang ditekuninya ini, yakni munajat kepada Allah.

Allahu Akbar dibaca pada takbir pembuka shalat (takbiratul ihram) dan diulang-ulang pada setiap perpindahan dari satu rukun kepada rukun berikutnya -kecuali bangkit dari ruku'- untuk mengingatkan orang yang shalat tadi, bahwa urusan dengan Allah adalah urusan paling besar dan paling penting dari setiap sesuatu dilihatnya, didengarnya, disukainya dari urusan dunia.

Maka jika seorang yang sedang shalat hatinya berpaling kepada urusan-urusan tadi maka ia telah dilalaikan dari shalatnya dan khusyu' di dalamnya. Maka saat seseorang lalai atau hatinya berpaling kepada selain shalat ia diingatkan dengan kalimat ini, Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Sehingga merenungi zikir ini sangatlah penting.

Wallahu A'lam.

*voaislam

Sunday, March 17, 2013

Kemanakah Arah Pandangan Saat Sedang Shalat

Apakah yang harus dilihat kala sedang melaksanakan shalat, saat seding berdiri menjalankan shalat, apakah kita harus melihat ke atas, ke bawah ataukah ke kanan dan ke kiri. Kayaknya ini seringkali dipertanyakan oleh umat Islam sendiri.
Lemanakan arah pandangan mata saat sedang melaksanakan shalat...

Pandangan seseorang memiliki pengaruh dalam kekhusyuannya saat shalat. Sementara khusyu' merupakan salah satu unsur penting untuk diterimanya shalat. Bahkan seseorang tidak akan merasakan nikmatnya ibadah teragung ini kecuali dengan kekhusyu'an.


Oleh sebab itu, Syariat mengatur hukum berkaitan dengan pandangan mata dalam shalat.
Kita temukan larangan keras dari Rasulullah SAW melihat ke atas atau ke langit, dan melarang pula menengok dan melirik ke arah kanan-kiri.

Penjelasan Al-Hafidz di atas adalah sebagai upaya menjama' (mengompromikan) hadits-hadits yang disebutkan Imam al-Bukhari dan hadits-hadits menundukkan pandangan ke arah sujud. Ini adalah kompromi yang sangat bagus.

Dari Jabir bin Samurah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِى الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ

"Hendaknya kaum-kaum yang mengarahkan pandangan mereka ke langit dalam shalat itu bertaubat atau pandangan mereka tersebut tidak akan kembali kepada mereka."
(HR. Al-Bukhari Muslim)

Dalam riwayat al-Bukhari, "Hendaknya mereka berhenti dari hal itu atau akan disambar pandangan mereka."

Dari 'Aisyah ra berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menoleh dalam shalat, dan Beliau menjawab,

هُوَ اِخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ اَلشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ اَلْعَبْدِ

"Itu adalah pencopetan yang dilakukan syetan terhadap shalat hamba."
(HR. Al-Bukhari)

Kemana Arah Pandangan Shalat yang Benar


1. Pendapat Pertama.
Para ulama bebeda pendapat tentang arah yang dituju oleh pandangan seorang mushalli dalam shalatnya.

Pertama, Imam Malik berpendapat pandangan mushalli diarahkan kepada kiblat.
Imam Al-Bukhari menguatkan ini dalam Shahih-nya dengan membuat bab Raf'ul Bashar Ilal Imam Fii al-Shalah (Bab mengangkat (mengarahkan,-ter) pandangan ke imam dalam Shalat).

Pendapat ini memiliki beberapa hadits yang mendukungnya, bahwa para sahabat melihat kepada Rasulullah SAW saat mereka shalat dalam berbagai kesempatan untuk memperhatikan gerakan-gerakan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghadap ke tanah atau ke tempat sujud.

Beberapa hadits yang dijadikan sandaran adalah:

Dari Ma'mar, ia berkata: Aku bertanya kepada Khabbah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِه

"Apakah Rasulullah SAW membaca dalam shalat Dzuhur dan Ashar?" beliau menjawab, "Ya."
Kami bertanya, "Bagaimana kalian mengetahui hal itu?" beliau menjawab, "Dengan gerakan janggutnya."
(HR. Al-Bukhari)

Al-Barra' pernah berkhutbah dan menyampaikan, "Apabila para sahabat shalat bersama Rasulullah SAW maka beliau mengangkat kepalanya dari ruku' maka mereka berdiri sehingga mereka melihat beliau sudah sujud."
(HR. Al-Bukhari)

Dari Abdullah bin Abbas ra, berkata: "Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW lalu beliau shalat. Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, kami melihat Anda mengambil sesuatu saat di posisimu, lalu Anda mundur kembali?" Beliau menjawab: "Aku diperlihatkan surga, lalu aku diberikan setandan anggur. Jika aku mengambilnya niscaya kalian akan memakannya yang akan mengakibatkan terabaikannya urusan dunia."
(HR. Al-Bukhari).





2. Pendapat Kedua.
Imam Syafi'i dan para ulama Kuffah –ini yang shahih dari madhab Hanafi-, disunnahkan bagi orang yang shalat mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya, karena akan lebih mendekatkan kepada khusyu'.

Syaikh Al-Albani menyebutkan dalam Sifat Shalat Nabi SAW pada bab Al-Nadhar Ilaa Maudhi' al-Sujud wa Al-Khusyu'.
Lalu beliau menyebutkan sejumlah hadits di bawahnya, di antaranya:

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا صلى؛ طأطأ رأسه، ورمى ببصره نحو الأرض

"Adalah Rasulullah SAW apabila shalat maka beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kea rah tanah."
(Disebutkan Imam al-Hakim dan beliau berkata: Ini sesuai dengan syarat Muslim saja)

Muhammad bin Sirin berkata: para sahabat Rasulullah SAW mengangkat pandangan mereka ke langit dalam shalat.
Maka saat turun ayat ini:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya."
(HR. Al-Mukminun: 1-2) Mereka menundukkan pandangan mereka ke tempat sujud."

Al-Hafidh Ibnu Hajar merinci masalah ini, "Mungkin bisa kita rinci antara imam dan makmum. Disunnahkan bagi imam melihat ke tempat sujud. Begitu juga bagi makmum. Kecuali saat ia ingin memperhatikan imam. Adapun munfarid (orang shalat sendirian), hukumnya seperti hukum imam."

Beliau mengomentari beberapa hadits yang disebutkan imam Bukhari tentang menghadapkan pandangan ke imam, "Dan maksud ulasan bisa dimaknai, hukum asal makmum melihat ke tempat sujudnya karena yang dimau adalah khusyu' kecuali apabila dia perlu sekali melihat apa yang dikerjakan imam untuk mengikutinya, ini sebagai contoh."

Wallahu A'lam.
*voaislam

Saturday, March 16, 2013

Bolehkah Kencing Sambil Berdiri

Boleh tidak ya kita kencing sambil berdiri, entah lakik-laki atau perempuan. Ketahuilah bahwa setiap aktifitas muslim ada tuntunan dan petunjuknya dalam Islam.
Salah satunya dalam perkara buang air atau aktifitas di kamar kecil. Islam menuntun umatnya agar menggunakan adab-adab buang air yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tujuannya, supaya mereka menjadi makhluk mulia yang berbeda dengan binatang yang tak memiliki aturan saat buang hajatnya.


Di antara adab tersebut, bersembunyi atau menutup diri dari pandangan orang saat buang air, tidak menghadap ke kiblat atau membelakanginya, tidak buang hajat sambil berbincang-bincang, buang hajat tidak dengan berdiri agar lebih aman dari cipratan najis dan tidak terlihat auratnya oleh manusia, dan adab-adab lainnya.

Berkaitan dengan posisi saat buang air kecil, maka sambil duduk adalah lebih utama. Walaupun dengan berdiri bukan berarti haram mutlak, walau ada sebagian ulama yang memakruhkannya dengan makruh tanzih. Sebabnya, Nabi biasa buang air kecil dengan duduk dan pernah sesekali beliau buang air dengan bediri untuk menjelaskan bolehnya. Sehingga 'Aisyah ra tidak mengetahui dari posisi buang air kecil Nabi SAW kecuali dengan duduk.

Aisyah ra menyampaikan,

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُوْلُ قَائِماً، فَلَا تُصَدِّقْهُ، مَا كَانَ النَّبِيُّ يَبُوْلُ إِلَّا قَاعِداً

"Siapa yang menyampaikan kepadamu bahwa Nabi SAW buang air kecil sambil berdiri maka janganlah percaya kepadanya. Nabi SAW tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk."
(HR. Al-Nasai, no. 3227, Abu Dawud, no. 2050)



Ini kesaksian Aisyah Radhiyallahu 'Anhu yang ia lihat dari posisi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat buang air kecil dalam rumahnya. Ini tidak menafikan posisi buang air kecil beliau yang sambil berdiri. Juga tidak menunjukkan larangannya secara total. Karena ada keterangan dari Hudzaifah ra yang mengatakan,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ لَقَدْ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا

"Sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau beliau berkata Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah mulik suatu kaum lalu beliau buang air sambil berdiri." (
HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, bahwa hadits-hadits yang menyebutkan larangan buang air kecil sambil berdiri adalah lemah, kecuali hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahlus Sunan, bahwa beliau berkata:
"Siapa yang menyampaikan kepada kalian bahwa Rasulullah SAW buang air kecil sambil berdiri maka jangan kalian mempercayainya."

Hadits ini dijawab, hadits yang menetapkan didahulukan atas yang menafikan. Dan bahawa 'Aisyah ra menceritakan apa yang dilihatnya di dalam rumahnya dan tidak menunjukkan larangan secara umum.

Kesimpulannya adalah bahwa buang air sambil berdiri dibolehkan dengan syarat benar-benar aman dari terciprat air kencingnya, aman dari pandangan manusia, dan dalam kondisi mendesak untuk berdiri.


Alasan terakhir ini yang disebutkan oleh Imam Abu Abdillah al-Marwazi dan Al-Qadhi Iyadh (dalam Syarah Nawawi atas Shahih Muslim), bahwa subathah (tempat pembuangan sampah) adalah tinggi.

Wallahu A'lam.
Sumber: voa islam

Friday, March 15, 2013

Beberapa Penyimpangan Pengamalan Surat Al Fatihah

Banyak keutamaan Surat Al-Fatihah ini dibandingkan dengan surat yang lain dalam Al Qur'an.
Tapi sayangnya, masi banyak peyimpangan dalam mengamalkan surat ini, terutama di pulau Jawa. Maklumlah karena pulau jawa adalah basis utama dakwahnya para walisanga.
Dan sangat yakin pula, para walisanga berdakwah dengan mengislamkan penduduk jawa lewat adat istiadat, yang otomatis setiap adat pasti ada islamnya.

Hanya surat al-Fatihah saja yang menjadi salah satu rukun shalat.
Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca surat Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah adalah surat ruqyah, jika ia dibaca atas orang sakit dengan izin Allah SWT, ia akan sembuh.
Ini karena Nabi SAW bersabda kepada sebagian sahabatnya yang membacakannya atas orang yang disengat lebah lalu ia sembuh, "Tidakkah engkau tahu bahwa ia adalah ruqyah."




Praktek-Praktek Baru

Namun disayangkan, sebagian orang salah dalam mengamalkan surat Al-Fatihah.
Mereka menciptakan praktek-praktek baru dalam beberapa moment sebagai pengagungan surat ini. Padahal mengamalkan surat ini adalah bagian dari ibadah yang pondasinya adalah Tauqif Wal Ittiba'. Yakni tidak boleh menetapkan kecuali berdasarkan dalil dan contoh dari Nabi SAW.

Sesungguhnya kita diperintahkan untuk mengikuti petunjuk Nabi SAW dan menjauhi perkara-perkara baru atas nama agama.
Karena Nabi SAW bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

"Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini (Islam) yang bukan darinya, maka dia tertolak."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"Hendaklah kamu menjauhi perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat."
(HR. Abu Dawud)



Nabi SAW bersabda,
"Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan."
(HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim) dan hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.

Beberapa Penyimpangan yang Terlihat di Masyarakat


Di antara kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam berta'amul dan mengagungkan surat Al-Fatihah adalah sebagai berikut:

1. Membacakan surat Al-Fatihah atas mayit (ruh fulan).

Perkara ini tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Padahal kita diperintahkan untuk ittiba' (ikut) dan tidak diperintahkan untuk ibtida' (menciptakan perkara ibadah baru). Sementara keterangan yang berasal dari beliau dalam urusan ini adalah mendoakan dan memohonkan ampun untuk mayit.

Rasulullah SAW bersabda sesudah menguburkan mayat,

اِسْتَغْفِرُوا لِأَخِيْكُمْ, وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيْتَ؛ فَإِنَّهُ الآن يُسْأَلُ

"Mintakan ampun untuk saudaramu dan mohonkan keteguhan untuknya, karena sekarang ia ditanya."
(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

Begitu juga saat datang berita wafatnya raja Najasyi, maka beliau perintahkan para sahabatnya untuk memintakan ampun baginya dan tidak memerintahkan untuk membacakan al-Fatihah,
"Mintakan ampun untuk saudara kalian."
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah ra)

2. Melamar Gadis.

Saat melamar maka dibacakan surat Al-Fatihah yang diyakini sebagai separoh akad, ini tidak benar.
Tidak ada satu riwayatpun dari Nabi SAW yang menjelaskannya. Sesungguhnya lamaran hanya merupakan perjanjian atau kesepakatan untuk melangsungkan akad nikah. Karenanya, seorang wanita masih sebagai orang lain sehingga dilangsungkannya akad nikah sehingga ia menjadi istrinya sah.

3. Sebagian orang menutup shalat dan doa-doa mereka dengan meneriakkan "Al-Fatihah".

Ini tidak pernah ada contohnya dari Nabi dan para sahabatnya. Jika ini baik dan termasuk ibadah yang disyariatkan pastinya Nabi dan para sahabatnya telah mengerjakannya. Karena tidak ada kebaikan kecuali beliau SAW telah tunjukkan, maka jika ini adalah perkara yang benar-benar baik menurut syariat pasti beliau SAW telah tunjukkan dengan qaul dan perbuatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,
"Sebagian orang pada hari ini telah membuat beberapa perkara baru dalam (pengamalan) surat ini, mereka menutup doa dengan surat Al-Fatihah. Menjadikannya sebagai pembuka dalam khutbah dan membacanya dalam beberapa event. Ini adalah kesalahan. Misalnya, engkau temukan apabila seseorang berdoa lalu ia seru orang-orang disekitarnya, "Al-Fatihah". Yakni, bacalah Al-Fatihah. Sebagian orang memulai khutbahnya dengan membaca surat Al-Fatihah atau dalam semua acaranya. Ini adalah kesalahan. Karena ibadah dibangun di atas at-tauqif dan ittiba'."

Wallahub A'lam.

Thursday, March 14, 2013

Siapakah Ulil Amri Yang Wajib Ditaati Umat Islam

Siapakah sebenarnya ulil amri itu, dia adlah seorang pemimpin suatu negeri.
Lalu kriteria apa saja yang patutu dan pantas untuk ditaati oleh umat islam itu sendiri, Anda bisa menyimak kajian di bawah ini yang semuanya berdasarkan Al-Qur'an, sedangkan dalil hadist akan segera menyusul kemudian saja sobat ya.


Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian."
(QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian."
(QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Dua ayat ini adalah ayat yang sering kita dengar dan digunakan oleh banyak orang dalam rangka mewajibkan masyarakat untuk taat kepada pemerintah Republik Indonesia ini.
Oleh karena itu perlu kiranya kita meninjau kembali atau meluruskan posisi ayat ini secara proporsional dalam kehidupan nyata di negeri ini.

Mari kita pahami siapa orang-orang yang beriman dalam ayat tersebut dan kaitannya dengan realita Pemerintahan Republik Indonesia ini, mari simak tinjauan ayatnya lebih dalam lagi.



Tinjauan ayat


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian."
(QS. An Nisaa’ [4]: 59)

"Hai orang-orang yang beriman", ini adalah khithab (seruan) terhadap orang-orang yang beriman. "Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian", maksud ulil amri di sini adalah ulil amri dari kalangan kalian, yaitu pemimpin muslim atau pemimpin yang mu’min, itu adalah pengertian sederhananya.

Jadi, pemimpin yang harus ditaati ─tentunya selain dalam maksiat─ adalah pemimpin muslim, karena Allah mengatakan "min kum" (dari kalangan kalian) setelah mengkhithabi "hai orang-orang yang beriman."

Orang yang beriman atau orang muslim yang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma adalah orang yang beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut.

Berikut ini adalah penjabarannya, dalil Al-Qur'an



1. Allah SWT berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

Artinya:
"Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang teguh pada al ‘urwah al wutsqa."
(QS. Al Baqarah [2]: 256)

Al ‘urwah al wutsqa adalah buhul tali yang amat kokoh, yaitu Laa ilaaha illallaah, artinya barangsiapa kafir kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia itu adalah orang yang mengamalkan Laa ilaaha illallaah, orang yang sudah masuk Islam, karena pintu masuk Islam adalah dengan perealisasian Laa ilaaha illallaah sebagaimana ini adalah rukun Islam yang pertama.

Orang tidak dikatakan beriman, kecuali jika dia beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut.

Jika orang beriman kepada Allah tapi dia tidak kafir kepada thaghut, maka ia bukan orang yang beriman, ia bukan muslim. Itu berdasarkan nash Al Qur’an. Maka dari itu Allah dalam ayat ini mendahulukan kafir kepada thaghut "Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah" supaya tidak ada orang yang mengklaim behwa dirinya beriman kepada Allah padahal dia belum kafir kepada thaghut pada realita yang dia kerjakan.

2. Allah SWT berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya:
Katakanlah (Muhammad): "Hai ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai arbaab (tuhan-tuhan) selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim."
(QS. Ali Imran[3]: 64).

Jadi, yang diserukan kepada ahli kitab adalah pengajakan untuk berkomitmen dengan Laa ilaaha illallaah, ibadah kepada Allah dan meninggalkan penyekutuan terhadap Allah SWT.

Di ujung ayat Allah menyatakan; "jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim", maksudnya jika mereka berpaling dan tidak mau meninggalkan para arbab itu, maka saksikanlah bahwa kami ini orang muslim dan kalian bukan orang muslim.

Berdasarkan ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang tidak merealisasikan apa yang dituntut oleh ayat ini, yaitu ibadah hanya kepada Allah, meninggalkan sikap penyekutuan sesuatu dengan-Nya dan meninggalkan sikap menjadikan selain Allah sebagai arbaab, maka orang yang tidak mau meninggalkan hal itu adalah bukan orang muslim.

3. Allah SWT Berfirman,

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
(QS. At Taubah [9]: 5)

Nah, sekarang Taubat dari apa ini sebenarnya?
Taubat dari kemusyrikan dan segala kekafiran… Yang maksudnya adalah Allah SWT melarang kaum muslimin untuk melakukan pembunuhan, pengepungan dan pengintaian apabila orang-orang itu sudah taubat dari segala kemusyrikan dan kekafiran, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berarti orang muslim itu tidak boleh diganggu.
Maka orang yang tidak taubat dari kemusyrikannya berarti dia itu bukan orang muslim.

4. Allah SWT berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

Artinya:
"Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian satu agama."
(QS. At Taubah [9]: 11)

Jika mereka bertaubat (dari kemusyrikannya), maka mereka adalah saudara satu agama, maksudnya mereka itu orang-orang muslim, karena sesama muslim adalah saudara, sebagaimana dalam surat Al Hujurat [49]: 10 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara."
(QS. Al Hujurat: 10)

Berarti jika sebaliknya, dia tidak mau meninggalkan kesyirikannya meskipun dia shalat, zakat, dan melakukan ibadah lainnya, maka dia bukan ikhwan fiddin (saudara satu agama) dan berarti dia bukan orang mu’min, karena ukhuwah imaniyyah itu tidak terlepas dengan dosa-dosa biasa, akan tetapi dengan kesyirikan dan kekufuran.

Wednesday, March 13, 2013

Agar Semangat Jihad Tetap Berkobar

Sobat, apa saja yang harus dilakukan agar semangat jihad dapat terus berkobar selama-lamanya, karena musuh islam akan terus saja memerangi kita sampai kita kembali kepada agamanya alias murtad.

Seharusnya, jika mampu, kita wajib melawan berbagai konspirasi tersebut, dan menghancurkannya. Namun apa daya, umat dalam kondisi lemah. Mujahidin hanya memiliki kemampuan terbatas dalam bidang ini.
Kesabaran terus ditingkatkan, di antaranya terus menjaga ruh berjihad melalui media termasuk ngeblog yang meminjam domainnya google ini.


Ketahuilah bahwa konspirasi musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin akan terus berlanjut. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk memerangi umat Islam. Tidak ada barang sesaat mereka berhenti.

Hal ini sebagaimana yang dikabarkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya,

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah: 217),

Pemikiran Ibnu Katsir

Ibnu Katsir ra menjelaskan makna kalimat sebelumnya,
"Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh," Yakni: Sungguh mereka menimpakan fitnah kepada seorang muslim dalam agamanya sehingga memurtadkan mereka kepada kekafiran setelah beriman, maka itu lebih besar di sisi Allah daripada membunuh."

Kemudian beliau menyebutkan: "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." Maksunya: Kemudian mereka melakukan yang lebih buruk dan besar dosanya, mereka tidak bertaubat dan tidak pula berhenti."

Beliau melanjutkan,
"Sifat ini berlaku umum bagi setiap orang kafir, mereka tidak henti-hentinya memerangi golongan di luar mereka sehingga memurtadkan dari agama mereka. Khususnya Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang telah mendirikan organisasi-organisasi, menyebar misionaris, menempatkan para dokter, mendirikan sekolahan-sekolahan untuk menarik umat kepada agama mereka, membuat berbagai propaganda untuk menanamkan keraguan dalam diri mereka akan kebenaran agama mereka (Islam)."

Jika demikian bagaimana jika semangat jihad meredup sementara semangat permusuhan kafirin terus berlanjut bagaimana sobat...





Allah SWT berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (
QS. Ali Imran: 99-100)

Karenanya, semangat tidak boleh pudar, harus terus terjaga. Jika tidak mampu atau belum tepat waktu menyempurnakan jihad secara langsung sesuai tuntutan Syariat, maka kita harus terus menjaga ruh jihad.

Allah Ta'ala berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai."
(QS. Al-Taubah: 32)

Allah SWT berfirman,

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan."
(QS. Ali Imran: 186)

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi."
(QS. Ali Imran: 118).

Semoga semangat jihad kita akan tetap menyala hingga ajal menjemput, amiiin.

*voa islam

Monday, March 11, 2013

Istri Kedua Nabi | Saudah binti Zamah Wanita Tua Kulit Hitam dan Gemuk

Siapakah istri kedua dari Rasulullah SAW...
Perempuan itu adalah Saudah binti Zamah ra yang dinikahi Rasulullah SAW tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Ia menjadi istri pertama yang dinikahi Rasulullah setelah wafatnya Khadijah. Saudah pulalah yang dipilih oleh Rasulullah meski ketika itu, secara bersamaan, Abu Bakar menawarkan Rasulullah SAW untuk menikahi anak gadisnya, Aisyah ra.

Keputusan Rasulullah SAW menikahi Saudah binti Zamah memang tak dapat diukur dengan standar manusia biasa. Apa yang dipilih oleh Rasulullah SAW dengan menikahi perempuan tua berkulit hitam, gemuk, dan tidak kaya tersebut memang hanya dapat dimengerti oleh dimensi iman. Satu-satunya dimensi yang dapat menerjemahkan arti ketulusan dan kesejatian cinta, hanya karena mengharap ridha Ilahi saja.






Diutamakan memilih jodoh adalah ahlaknya, Agamanya, dan yang tidak kalah penting ialah kesatuan visinya dijalan Allah, menegakkan Syiar Allah yang menjadi bagian kekuatan Agama seseorang, jadi penilaian kepada calon pendamping tetap ada

Sungguh, banyak yang terbelalak keheranan ketika Rasulullah SAW memutuskan untuk menikahi Saudah. Mengapa Rasulullah justru menikahi Saudah, perempuan yang jauh berbeda kondisinya dengan Khadijah RA dan memilihnya, justru di saat Abu Bakar menawarkan anak gadisnya?

Saudah pun terkenal dengan fisiknya yang tak rupawan. Sementara Rasulullah adalah puncak keagungan dengan fisik yang menawan. Sebagaimana diriwayatkan dari Barra bin Azib, Rasulullah adalah manusia yang paling rupawan dan baik akhlaknya. Tidak terlalu tinggi, tidak pula bertubuh pendek (HR. Bukhari)

Pernikahan inipun menjadi pesan sepanjang zaman mengambil tanggung jawab sebagai seorang pelindung dan pengayom perempuan dan anak-anak agar mereka tetap tumbuh berkembang dalam kasih sayang yang diarahkan kepada aturan Ad-Diin ini. Bervisikan menyebarkan Islam membina kekuatan, dengan keistiqomahan diatas keikhlasan, dengan prioritas memperhatikan Agama Si Calon. Dimana ia siap berkorban mengemban tanggung jawab, membina umat dgn kesungguhan.

Inilah yang diwasiatkan oleh pernikahan agung Rasulullah Muhammad SAW dengan Saudah binti Zamah. Perempuan yang juga mendapatkan kehormatan untuk menyusul kepergian Rasulullah SAW kembali ke pangkuan Robb-nya. Sejenak setelah Rasulullah SAW wafat.

4 Pemahaman Yang Salah Kaprah Atas Islam

Islam adalah agama yang Rahmatan Lil-Alamin.

Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat tentang ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya.





Diantaranya pemahaman tersebut adalah


1. Berkasih sayang dalam kemungkaran

Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata :
"Islam kan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang."

Sungguh aneh....

Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini.
Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, "Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah SAW. Beliau Rasulullah SAW memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah."

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah.

Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.

Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من
شيء إلا شانه

"Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya."
(HR. Muslim no. 2594)

2. Berkasih sayang dengan orang kafir

Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

"Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta."
(QS. Al Anbiya: 107)

Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu.

Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.

Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka."
(QS. Al-Mujadalah: 22)

Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang.
Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

"Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam."
(QS. Al Imran: 19)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."
(QS. Al Imran: 85)

Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka.

Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya."
(HR. Muslim no.8)

Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi.

Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.



3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama

Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”.

Sungguh aneh....

Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.

Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107:
"Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus."
Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi SAW.

Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."
(QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)

Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها

"Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat angsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)."
(HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu?

Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah?

Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.

4. Menyepelekan permasalahan aqidah

Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan rahmatan lil ‘alamin:
"Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia".

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran TAUHID. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga.

Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut."
(QS. An Nahl: 36)

Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak?

Allah Ta’ala berfirman:

نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun."
(QS. Al Maidah: 72)

Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?

Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala.

Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

"Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
(QS. Ar Ruum: 31-32)

Mari jalin Uswah, saling mengingatkan agar bisa hidup di dunia dan di akhirat dengan agama kita tercinta, ISLAM.

Saturday, March 9, 2013

Azab Akhirat Jauh Lebih Pedih

Sahabat, mari kita bersama renungkan tentang azab akhirat yang akan kita terima. Semoga bisa memicu sikap kita agar lebih baik di dunia ini.

Azab Akhirat Jauh Lebih Pedih, Uswah Islam

Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian, bayangkan bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh panas neraka. Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali dari api dunia ini.


Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, sungguh beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan, merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya. Penyesalan di akhirat nanti tidak akan berguna sedikit pun. Penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.

Jadi, jika kita berbuat suatu dosa namun tidak mendapat hukumannya, waspadalah akan azab akhirat. Justru seorang mu'min yang diberi hukuman oleh Allah di dunia atas dosa-dosanya, berarti telah bebas dari hukuman akhirat jika ia benar-benar bertaubat. Contohnya adalah seseorang yang dirajam karena berzina, niscaya jika ia ikhlas menjalaninya maka itu sudah cukup baginya.

Oleh karena itu, Rasulullah berkata kepada orang yang mencela wanita yang dirajam karena berzina bahwa wanita itu telah bertaubat dan jika taubatnya itu dibagikan kepada penduduk Madinah niscaya akan mencukupi mereka. Dengan ditegakkannya rajam atasnya berarti ia telah bebas dari azab akhirat atas perbuatan zina.

Allah SWT Berfirman : "Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu makhluk melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (Faathir: 45)

Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya karena ia tidak langsung mendapat hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat tanpa ada yang akan menghukumnya. Dengan begitu, ia semakin tenggelam dalam dosa dan kesesatannya. Begitu juga orang yang melihat mereka tanpa ilmu dan iman. Melihat orang-orang jahat dan pendosa tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka hal itu akan mendorong mereka untuk ikut

langkah mereka, karena keburukan itu gampang menularnya daripada kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.

Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia, namun ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

Maka, janganlah seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kebodohannya sendiri. Sesungghnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Azab akhirat jauh lebih berat dan lebih pedih di luar yang dapat dibayangkan manusia.

Maka, sungguh beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan, merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya. Penyesalan di akhirat nanti tidak akan berguna sedikit pun. Penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.

Friday, March 8, 2013

16 Perbuatan yang Tidak Membatalkan Shalat

Kalau kita ini sering membaca perbuatan dan hal-hal yang bisa membatalkan shalat, bukan berarti kita tidak diijinkan melakukan perbuatan yang bisa membatalkan shalat. Misal saja dalam keadaan darurat dan saat perang.

Memang anyak hal yang dianggap membatalkan shalat atau dianggap tidak boleh dilakukan dalam shalat padahal ternyata hal-hal tersebut boleh dilakukan.


Hal-hal yang diperbolehkan oleh syari’at ISLAM untuk dilakukan ketika shalat dan perbuatan yang tidak membatalkan shalat


1. Mencegah orang yang hendak lewat di depannya ketika shalat.

Ketika sedang shalat, diperbolehkan menjulurkan tangan untuk menghalangi orang yang hendak melintas di depan kita.
Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW dari Abu Sa’id al-Khudri:

إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس, فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه, فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان

"Jika seseorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dengan manusia, kemudian seseorang hendak lewat di antara kedua tangannya (di hadapannya) maka cegahlah orang itu. Jika dia menolak (masih tetap ingin lewat), maka perangilah dia karena sesungguhnya dia adalah setan."

2. Membunuh ular, kalajengking, dan hewan lain yang membahayakan ketika shalat.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ((أمر بقتل الأسودين في الصلاة: العقرب والحية

Dari Abu Hurairah, "Bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh dua hewan yang berwarna hitam ketika shalat: yaitu kalajengking dan ular."

3. Menggendong anak kecil ketika shalat.

فعن أبي قتادة ((أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يصلي و هو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا سجد وضعها و إذا قام حملها

Dari Abu Qatadah, "Bahwasanya Rasulullah SAW pernah shalat dan dia menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah SAW. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri beliau menggendongnya lagi."

4. Sedikit berjalan karena ada kebutuhan.

فعن عائشت قالت: كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي في البيت, و الباب عليه مغلق, فجعت فاستفتحت فمشى ففتح لي, ثم رجع إلى مصلاه, ووصفت أن الباب في القبلة

Dari ‘Aisyah, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah shalat di rumah, dan pintu dalam keadaan terkunci. Kemudian aku datang dan meminta dibukakan pintu, lalu Rasulullah berjalan dan membukakan pintu untukku. Kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya, dan aku mengetahui bahwasanya pintu berada di arah kiblat."

5. Memindahkan kaki orang yang tidur karena ada kebutuhan.

عن عائشة قالت: ((كنت أمد رجلي في قبلة النبي صلى الله عليه و سلم و هو يصلي, فإذا سجد غمزني, فإذا قام مددتها

Dari ‘Aisyah, dia berkata: "Aku pernah meluruskan kakiku di arah kiblat nabishallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat. Jika beliau sujud, beliau memindahkan kakiku, dan jika beliau berdiri aku meluruskan kakiku lagi."

6. Mengerjakan shalat dengan memakai sandal.

Dari Sa’id bin Yazid, Dia berkata: "Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat dengan mengenakan sepasang sandal?" Dia menjawab,'Ya'."
An-Nawawi menjelaskan, pada hadits ini terdapat keterangan mengenai dibolehkannya shalat dengan memakai sandal dan khuf selama diyakini kebersihannya dari najis.

7. Melepas sandal atau semacamnya ketika shalat karena ada kebutuhan.

عن أبي سعيد الخدري قال: ((بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بأصحابه إذا خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوانعالهم….

Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: "Suatu ketika Rasulullah SAW shalat bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya kemudian meletakkan keduanya di sebelah kiri beliau. Ketika para sahabat melihatnya, mereka pun langsung melepaskan sandal-sandal mereka …."






8. Meludah pada baju atau sapu tangan/tissue.

عن جابر عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ((إنأحدكم إذا قام يصلي فإن الله تبارك و تعال قبل وجهه, فلا يبصقن قبل وجهه ولا عن يمينه, وليبصق عن يساره تحت رجله اليسرى فإن عجلت به بادرت فليقل بثوبه هكدا)) ثم طوى ثوبه بعده على بعض

Dari Jabir dari Rasulullah SAW, Beliau berkata: "Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian berdiri untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berada di hadapannya. Maka janganlah meludah ke arah depan dan jangan pula ke arah kanan, akan tetapi meludahlah ke arah kiri di bawah kaki kirinya. Jika tergesa-gesa dengannya (tidak bisa menahan ludahnya) maka meludahlah di bajunya seperti ini."


9. Memperbaiki baju dan menggaruk badan ketika shalat.

فعن جرير الضبي قال: ((كان علي إذا قام في الصلاة وضع يمين علي رسغ يساره, ولا يزال كذلك حتى يركع إلا أن يصلح ثوبه أو يحك جسده

Dari Jarir adh-Dhabbi, dia berkata: "Ali jika berdiri di dalam shalat, dia meletakkan tangan kanannya di pergelangan tangan kirinya, dan senantiasa seperti itu hingga ia ruku’ kecuali jika ia memperbaiki bajunya atau menggaruk badannya."

10. Bertasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi perempuan jika terjadi kelupaan di dalam shalat.

لقوله النبي صلى الله عليه و سلم: ((… من نابه شيء في صلاته فليسبح, فإنه إذا سبح التفت إليه, وإنها التصفيح للنساء

Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW: "… jika terjadi sesuatu di dalam shalatnya maka bertasbihlah, maka jika ia bertasbih menolehlah (imam) kepadanya (memperhatikannya), dan sesungguhnya bertepuk tangan adalah bagi perempuan."

11. Melihat ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri karena kebutuhan.

عن جابر قال: ((اشتكى رسول الله صلى الله عليه و سلم فصلينا وراءه و هو قاعد, و أبو بكر يسمع الناس تكبيره, فالتفت إلينا فرانا قياما فأشار إلينا فقعدنا فصلينا بصلاته قعودا

Dari Jabir, dia berkata: "Rasulullah SAW pernah mengeluh. Kami shalat di belakang beliau dan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan kepada manusia bacaan takbirnya, maka beliau menoleh kepada kami dan melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, dan beliau berisyarat kepada kami, maka kami pun duduk, dan sholat sesuai dengan sholat beliau, yaitu dalam keadaan duduk."

12. Membalas salam dengan isyarat kepada orang yang memberi salam kepadamu.

Jika seseorang mengucapkan salam kepadamu sedangkan kamu sedang melaksanakan shalat, maka sudah jelas bahwasanya tidak boleh membalasnya dengan ucapan, akan tetapi boleh membalasnya dengan isyarat menggunakan tangan.
فعن ابن عمر قال: خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى قباء يصلي فيه, فجاءته الأنصار فسلموا عليه و هو يصلي, فقلت لبلال: كيف رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يرد عليهم حين كانوا يسلمون عليه و هو يصلي؟ قال: هكذا, و بسط كفه [و جعل بطنه أسفل و جعل ظهره إلى فوق]

Dari Ibnu Umar, dia berkata: "Rasulullah SAW pernah keluar menuju masjid Quba untuk shalat di dalamnya. Kemudian sahabat anshar datang dan memberikan salam kepada beliau sedangkan beliau sedang shalat, maka aku berkata kepada Bilal: bagaimana engkau melihat rasulullah membalas salam mereka ketika mereka memberikan salam kepada beliau sedangkan beliau sedang shalat? Bilal berkata: Seperti ini, dengan membentangkan telapak tangan beliau (beliau menjadikan telapak tangannya berada di bawah dan menjadikan punggung tangannya ke arah atas)."

13. Mengangkat kepala ketika sujud untuk mengecek keadaan imam ketika imam memanjangkan sujudnya.

Jika kamu sedang shalat berjama’ah dan imam memanjangkan sujudnya atau tidak terdengar takbir atau semisal itu maka boleh bagimu, ketika kamu sedang sujud, untuk mengangkat kepalamu untuk mengecek keadaan imam.

فعن عبد الله بن شداد عن أبيه قال: ((خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم في إحدى صلاتي العشاء و هو حامل حسنا أو حسينا فتقدم رسول الله صلى الله عليه و سلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى, فسجد بين ظهراني صلاته سجدة أطالها, قال أبي: فرفعت رأسي و إذا الصبى على ظهر رسول الله صلى الله عليه و سلم و هو ساجد فرجعت إلى سجودي, فلما قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إك سجدت بين ظهراني صلاتك سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر, أو أنه يوحى إليك, فقال: كل ذلك لم يكن, ولكن ابنى ارتحلنى فكرهت أن أعجله حتى يقضى

Dari Abdullah bin Syadad dari bapaknya, dia berkata: "Rasulullah SAW keluar menuju kami dalam salah satu shalat isya sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah SAW maju dan meletakkannya kemudian bertakbir untuk memulai shalat, kemudian beliau shalat. Beliau bersujud di tengah shalatnya dengan sujud yang panjang. Bapakku berkata: "Aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah SAW sedangkan beliau sedang sujud, kemudian aku kembali bersujud."

Ketika Rasulullah SAW telah selesai shalat, para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bersujud di tengah shalatmu dengan sujud yang panjang hingga kami mengira bahwasanya telah terjadi sesuatu, atau bahwasanya hal tersebut diperintahkan kepadamu, Rasulullah menjawab: Hal tersebut tidak mungkin, akan tetapi anakku menaiki punggungku maka aku enggan untuk mempercepatnya sampai ia selesai (menaiki punggungku)."

14. Melihat mushaf dan membaca darinya ketika shalat sunnah karena kebutuhan.

Adapun yang dimaksud kebutuhan seperti menghendaki memperlama berdiri dalam shalat, sedangkan ia tidak hafal.
Maka tidak mengapa membaca dari mushaf ketika shalat.

فعن القاسم أن ((عائشة كانت تقرأ في المصحف فتصلى في رمضان)) و قال القاسم: ((كان يؤم عائشة عبد يقرأ في المصحف

Dari al-Qasim bahwasanya 'Aisyah pernah membaca dari mushaf ketika shalat di bulan Ramadhan. Dan berkata al-Qasim: "Pada hari itu ‘Aisyah beribadah (shalat) dengan membaca dari mushaf."

15. Menutup mulut ketika menguap.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

"Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk."

16. Membetulkan posisi seseorang yang berada di shaf dengan menariknya ke depan atau ke belakang, atau memindahkan makmum dari kiri ke kanan.

Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap Ibnu Abbas, yaitu beliau memindahkannya dari sisi kiri ke sisi kanan beliau ketika Ibnu Abbas ikut melakukan shalat malam di sebelah beliau.

Monday, March 4, 2013

Apakah Ini Alasan Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI

Baru-baru ini telah ditemukan sebuah kitab Injil asli di negara Turki sana. Dianggap asli karena kitab Injil ini adalah Injilnya murid pertama nabi Isa as. Kitab tersebut dijuluki dengan nama Kitab Injil Barnabas.

Hal ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, termasuk kubu Vatikan itu sendiri.
Sebagaimana diberitakan oleh DailyMail, Basijpress dan NationalTurk, bahwa Injil Barnabas asli tersebut ditemukan pada tahun 2000 lalu di Turki, namun ditutupi oleh pemerintah Turki selama lebih dari 12 tahun, dan baru sekarang di beberkan ke publik.


Lembaran-lembaran kulit hewan itu ditulis dengan huruf Syriac dengan dialek bahasa Aram, bahasa yang sama seperti bahasa yang umum dipakai pada masa Yesus Isa Almasih.

Pihak Iran lewat Basij Press menyatakan bahwa apa yang tertulis di kitab Barnabas asli tersebut adalah bukti tentang kebenaran Islam, yang walau begitu ditanggapi oleh sinis dari berbagai pihak.
Bahkan pihak Kristen lewat berbagai jamaatnya menyatakan bahwa Kitab Barnabas tersebut diragukan keotentikannya.

Walau begitu, pihak Vatikan lebih arif dengan menyatakan telah mengajukan permohonan resmi ke pemerintah Turki untuk membaca dan menganalisa keaslian kitab kontroversial itu.
Para agamawan menyatakan bahwa jika Al-kitab Barnabas tersebut terbukti asli, maka akan mengakibatkan rusaknya kredibilitas Gereja, dan akan menimbulkan revolusi agama Nasrani besar-besaran di seluruh Dunia.

Pemerintah Turki menyakini bahwa kitab kulit hewan tersebut adalah Injil Barnabas orisinal.
Hal yang menarik dari Kitab Injil Barnabas Asli asal Turki tersebut menyatakan bahwa YESUS TIDAK PERNAH DI SALIB, dan terdapatnya ayat-ayat yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar serta pengakuan tentang kehadiran Nabi Akhir Jaman, Nabi Muhammmad SAW.
Pengakuan itu terdapat pada bab 41 dari Kitab Barnabas yang ditemukan di Turki tersebut.






ISI BAB 41 Kitab Injil Barnabas

Berikut ini terjemahannya :
"Allah telah menyembunyikan diriNya sebagai Malaikat Agung Michael berlari mereka (Adam dan Hawa) dari surga, (dan) ketika Adam berbalik, ia melihat bahwa di atas pintu gerbang ke surga tertulis "La Ela ELA Allah, Mohamad Rasul Allah"

Kitab yang masih menjadi perdebatan tersebut disebutkan kini disimpan di Justice Palace, Ankara, Turki dengan pengawalan ketat polisi bersenjata lengkap dan keamanan maksimum.

Tentu saja penemuan ini cukup menarik, sama menariknya dengan penemuan dan fakta sejarah bahwa Benua Amerika pertama kali di temukan oleh para pelaut tangguh Islam.
Kita sebagai muslim yang taat maka akan bijak dalam bekata menanggapi hal ini.

Jadi, jelaslah bahwa Kitab Injil Barnabas (Kitab Injil Asli) bertuliskan dan menyatakan Allah satu, Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah Utusan-Nya. Mengakui bahwa di kemudian hari akan datang Nabi dan Rasul penutup para nabi, yaitu Rasulullah Muhammad SAW yang jadi panutan kita semua.

Entah benar atau tidak...Wallahu A'lam....