Jumat, 24 Oktober 2014

Doa Awal dan Akhir Tahun Hijriyah

Di masyarakat kita ritual doa bersama (berjamaah) dengan bacaan-bacaan khusus pada akhir dan awal tahun hijriyah sangat marak. Doa akhir tahun dibaca sesudah shalat ‘Ashar di penghujung bulan Dzulhijjah, sedangkan awal tahunnya dibaca sesudah shalat Maghrib di awal Muharram tahun hijriyah yang baru.

Maraknya pelaksanaan ini menjadikannya seolah amalan sangat istimewa. Bacaan khusus padanya seolah menjadikannya amal ibadah yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan landasan dalil syar’i yang shahih. Padahal –sejatinya- tidak demikian.

Doa dengan bacaan, tatacara dan waktu tertentu, sehabis Ashar dan ba’da Maghrib pada akhir dan awal tahun, tidak memiliki dasar perintah khusus. Maka kita tidak boleh mengikat ibadah doa dengan waktu tersebut karena Al-Qur’an atau sunnah shahihah tidak ada yang menyebutkan mengenai perintahnya di akhir dan awal tahun, tentang tatacaranya, jumlahnya, waktu dan tempatnya.

Memang ada riwayat yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang meyakini adalah ibadah yang utama dengan pahala dan keutamaan tertentu. Di antara berdalil yang dijadikan sandaran adalah beberapa riwayat tentang fadilah membaca doa tersebut, antara lain sebagai berikut:

“Barangsiapa membacanya syaitan akan berkata: Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia (pembaca doa berkenaan) merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).”

Mengenai nas hadits tersebut, Jamaluddin Al-Qasimy menerangkan riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits shahih, dan tidak juga di dalam kitab-kitab hadits maudhu’ (palsu). (Islahul Masajid: 108). Maka nash di atas tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Kenyataannya, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, para shahabat dan para tabiin tidak pernah mengamalkan doa tersebut.

Ini telah diakui oleh beberapa ulama seperti Abu Syamah (seorang ulama Syafi’iyah wafat pada tahun 665H), Muhammad Jamaluddin Al-Qasimiy (Islahul Masajid:129), Muhammad Abdus Salam As-Shuqairy (As-Sunan wal-Mubtadaa’at:167), dan DR. Bakr Abu Zaid (Tashihhud Doa’:108), yang menegaskan bahwa “Doa awal dan akhir tahun” tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, para shahabat, tabiin, atau tabi’ut tabiin.‎

Di dalam hal ini kita haruslah berhati-hati, karena seseorang yang telah mengetahui bahwa derajat hadits itu palsu tetapi tetap meriwayatkannya sebagai hadits, maka ia akan termasuk dalam ancaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam:‎“Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tampat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)




Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:‎ "Barangsiapa yang meriwayatkan dariku sepotong hadits sedangkan dia tahu bahwa hadits itu palsu, maka dia adalah salah seorang pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya: I/62)

Kemudian, ada sebahagian golongan pula yang berdalih bahwa doa tersebut sebenarnya adalah sebagian dari amalan para salafus shalih karena fadilah doa tersebut diterangkan dalam kitab “Majmu’ Syarif”, tetapi bukan di dalam bentuk hadits.

Perkara ini sangatlah menyesatkan dan berbahaya, karena di antara fadilah doa tersebut diriwayatkan bahwa akan diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan konon syaitan akan berkata: “Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).”

Ini semua adalah perkara-perkara gaib yang tidak boleh diimani kecuali daripada sumber wahyu yaitu Al-Qur’an atau Sunnah. Oleh karena, Al-Qur’an dan Sunnah tidak menyebutkan fadilah-fadilah tersebut, maka bagaimanakah boleh seseorang mengetahui bahwa syaitan berkata demikian dan sebagainya dan beriman dengannya?

sumber: voa-islam.com

Kamis, 23 Oktober 2014

5 Inti yang Terkandung dalam Sumpah Seorang Presiden

"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa"


Demikianlah ucapan sumpah jabatan presiden yang tertuang di dalam pasal 9 Undang-Undang Dasar 1945.

Setiap presiden Republik Indonesia sebelum menjalankan tugas dan kewajibannya harus diangkat sumpahnya di hadapan rakyat atau para wakil rakyat. Hal terpenting adalah seorang presiden secara sadar mengucapkan sumpah tersebut disaksikan oleh Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Selama lima tahun sejak sumpah itu diikrarkan, sang presiden terikat dengan apa yang menjadi sumpahnya atas nama Allah.

Sumpah jabatan bukanlah perkara yang ringan bagi manusia. Ikrar yang terkandung di dalamnya merupakan penyataan kesediaan dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan untuk siap memikul beban amanah yang sangat berat. Sangat ironis bila langkah awal dari sebuah amanah yang berat justeru dirayakan dengan pesta pora dan arak-arakan padahal belum satupun amanah yang berhasil dia tunaikan.

Adapun 5 Inti yang terkandung dalam sumpah seorang presiden itu adalah:

1. Ketaatan kepada Allah

Ikrar ‘Demi Allah’ menjadi ucapan dengan kaidah tertinggi dan paling sakral dalam sumpah di atas bila diucapkan oleh seseorang yang berqidah Islam. Ikrar ini berkonsekuensi ketaatan yang utuh kepada Allah karena yang mengucapkan sumpah telah secara sadar melibatkan Allah dalam sumpahnya. Segala ucapan, sikap dan tindakan seseorang yang telah bersumpah atas nama Allah tidak boleh melakukan hal yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah.

Ikrar ini juga menuntut penghambaan seorang pemimpin kepada yang Yang Maha Kuasa. Presiden tidak boleh mengabaikan hukum dan peraturan yang telah digariskan oleh Tuhan. Sacara moralpun seorang presiden tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan aturan Allah seperti sombong, berdusta, meninggalkan kewajiban beribadah dan perbuatan tercela lainnya.




2. Menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Ketika seseorang menjadi pemimpin suatu kaum maka dia bukan lagi milik golongan tertentu, partai tertentu, masyarakat tertentu atau agama tertentu. Seorang pemimpin wajib memperlakukan setiap kelompok secara adil. Sikap ini menjadi bagian dari ciri kenegarawanan dari seorang presiden.

3. Memegang teguh Undang-Undang Dasar 1945

Undang-undang Dasar adalah konsensus kebangsaan dan kenegaraan kita. Undang-undang di Negara kita merupakan konsensus yang melibatkan komponen-komponen bangsa. Konsep bernegara yang didasarkan pada konsensus tersebut adalah konsep yang cocok bagi Negara yang sangat mejemuk ini. Dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraannya maka seorang presiden harus berjalan di atas pijakan undang-undang dasar 1945. Itulah prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang presiden.

4. Menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya.

Presiden harus mejadi contoh teladan dalam penegakan hukum. Instrumen hukum yang digunakan dalam sistem kenegaraan kita adalah Undang-undang dan peraturan. Negara dalam menjalankan hukum harus memandang sama setiap warga negara. Presiden sebagai seorang kepala negarapun tidak boleh menyimpang dari undang-undang dan peraturan negara tersebut.

Bila seoarang presiden menyimpang atau melanggar undang-undang maka harus diperlakukan sama seperti warga negara lainnya tanpa perlakuan istimewa. Bahkan bila seorang pejabat Negara melakukan pelanggran hukum sepatutnyalah mereka dihukum lebih berat dibanding dengan rakyat biasa.

5. Berbakti kepada nusa dan bangsa

Seorang presiden berkewajiban menghormati, setia dan siap berkorban bagi tanah air dan bagi segenap warga bangsa yang menjadi tanggungjawabnya. Bakti seorang presidan bagi tanah airnya mencakup seluruh wilayah teritorial yang dibatasi oleh batas-batas Negara Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.

Bakti seorang presiden juga melingkupi seluruh warga bangsa dari berbagai suku, agama, ras dan golongan yang berada di wilayah negara maupun di luar negeri. Seorang presiden harus menjaga keutuhan wilayah negaranya dan menjamin kedaulatan warga negaranya dimanapun.

Bila seorang presiden melakukan pelanggaran sumpahnya apalagi sebagai muslim dia mengucapkannya atas nama Allah, maka dia harus menyadari konsekwensi dari pengkhianatan atas sumpahnya tersebut.

sumber: voa-islam.com

Label

5 Anak Muslim yang Ajaib (1) Al Qur'an (214) Asmaul Husna (1) cerita (62) doa (47) hadits (244) Haji (14) Iblis (6) islam (374) Jin (10) Kristologi (21) Kriteria Cowok Keren Versi Islam (4) Masjid (13) Nabi (29) Para Sufi (3) pengetahuan (20) Puasa (35) sahabat (47) Shalat (55) uswah (76) Wali (5)

Entri Populer