Friday, November 21, 2014

10 Ciri-Ciri Seorang Wanita Muslimah yang Benar

Wanita muslimah saat ini sangat sulit dicari karena semakin majunya zaman, semuanya berubah secara total, si wanita mulai tidak memasak untuk suaminya lagi, mending membeli di luar lebih mudah dan cerdas.

Wanita sekarang memang berbeda dengan jaman dahulu. Jika di masa lalu wanita lebih sering di rumah, namun kini kebanyakan laki-lakilah yang sering di rumah.
Akibatnya, batas-batas sebagai seorang wanita terkadang terlanggar akibat keadaan yang berubah. Walau demikian, kita sebagai wanita muslimah boleh saja bekerja di luar rumah, hanya jangan pernah lupakan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim.

Menurut ustadzah Aufa, sebagai seorang muslimah sejati, maka kita harus senantiasa memiliki 10 sifat dan ciri ini.

10 Ciri-Ciri Seorang Wanita Muslimah yang Benar


1. Wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa Allah SWT adalah Rabbnya, dan Muhammad SAW adalah nabi-Nya, serta Islam pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya.

2. Wanita muslimah selalu menjaga shalat lima waktu dengan wudhu’nya, khusyu’ dalam menunaikannya, dan mendirikan shalat tepat pada waktunya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang menyibukkannya dari shalat itu. Tidak ada sesuatu pun yang melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala sehingga nampak jelas padanya buah dari shalat itu. Sebab shalat itu mecegah perbuatan keji dan munkar serta benteng dari perbuatan maksiat.

3. Wanita muslimah selalu menjaga ketaatan kepada suaminya, seiya sekata, sayang kepadanya, mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, memelihara kesejahteraannya, tidak mengeraskan suara dan perkataan kepadanya, serta tidak menyakiti hatinya.

4. Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati. Sehingga dia tidak keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi, mencari perlindungan Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab ini. Di mana Allah Subhaanahu wata’ala menginginkan kesucian baginya dengan hijab tersebut.
Allah berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al Ahzab: 59).

5. WANITA muslimah adalah wanita yang mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka akidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, lagi keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS. At Tahrim: 6).



6. Wanita muslimah tidak berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahramnya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita itu berkhalwat dengan seorang laki-laki, kecuali setan menjadi pihak ketiganya,” (Riwayat Ahmad).
Dia dilarang bepergian jauh kecuali dengan mahramnya, sebagaimana pula dia tidak boleh menghadiri pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali karena mendesak. Itupun harus berhijab. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita dilarang mengadakan suatu perjalanan sejarak sehari semalam kecuali disertai mahramnya,” (Mutafaq Alaih).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk keperluan kalian (wanita),” (Mutafaq Alaih).

7. Wanita muslimah adalah wanita yang tidak menyerupai laki-laki dalam hal-hal khusus yang menjadi ciri-ciri mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” Juga tidak menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khusus mereka, baik berupa pakaian, maupun gerak-gerik dan tingkah laku.

8. Wanita muslimah selalu menyeru ke jalan Allah di kalangan wanita dengan kata-kata yang baik. Baik itu dengan berkunjung kepadanya, berhubungan telepon dengan saudara-saudaranya, maupun dengan sms. Di samping itu, dia mengamalkan apa yang dikatakannya serta berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa Allah.

9. WANITA muslimah selalu menjaga hatinya dari syubhat maupun syahwat. Memelihara matanya dari memandang yang haram. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya’,” (QS. An Nur: 31).

Menjaga farjinya, memelihara telinganya dari mendengarkan nyanyian dan perbuatan dosa. Memelihara semua anggota tubuhnya dari penyelewengan. Ketahuilah yang demikian itu adalah takwa.

10. Wanita muslimah selalu menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia, baik siang hari atau malamnya. Maka dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan hal lain yang tidak berguna.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling mencari kesalahan dan bersaing dalam penawaran, namun jadilah hamba-hamba Allah yang bersatu,” (Riwayat Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran,” (Mutaffaq Alaih).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 12).

Mari kita bersama-sama mengubah diri ini menjadi lebih baik. Menjadi wanita muslimah sejati impian sang Ilahi. Menjadi dambaan diri untuk meraih prestasi di akhirat nanti. Berusaha memberikan yang terbaik dengan melalui segala proses kehidupan. Melintasi segala rintangan dengan penuh keyakinan akan keberhasilan. Kita pasti bisa bila kita mau mencoba dan berusaha.

sumber: islampos.com

Thursday, November 20, 2014

Benarkah Wafat di Hari Jumat Bebas Siksa Kubur

Berbahagialah kalian para muslimin dan muslimat yang meninggal pada malam jumat dan hari jumat hingga menjelang hari sabtu karena berpegangan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi sangat jelas kalau meninggal di hari itu maka terbebaslah si mayit dari siksa kubur.

Ibnul Qayyim rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau) menyebutkan ada lebih dari tiga puluh keutamaan dan keistimewaan hari Jum’at. Salah satunya, meninggal di malam Jum’at atau siang harinya termasuk salah satu tanda husnul khatimah.

Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Sunan-Nya, dari hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

"Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah melindunginya dari siksa kubur." (HR. Al-Tirmidzi, no. 1043)

Para ulama berselisih tentang status hadits ini. Imam al-Tirmidzi menyifatinya sebagai hadits gharib dan terputus sandanya. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyifatinya sebagai hadits sanadnya dhaif. Sementara Syaikh al-Albani dalam Ahkam Janaiz-nya (hal. 49-50) menyatakan, hadits tersebut hasan atau shahih dengan dikumpulkan semua jalurnya.

Al-Mubarakfuri dalam Syarh al-Tirmidzi menjelaskan makna fitnah kubur pada hadits di atas, "Maksudnya: siksanya dan pertanyaannya. Dan itu mengandung makna mutlak dan taqyid. Dan makna pertama lebih tepat dengan disandarkan kepada karunia Allah." (Tuhfah al-Ahwadi: 4/160)




Ini menunjukkan bahwa waktu yang mulia memiliki pengaruh besar sebagaimana tempat yang utama juga mempunyai pengaruh yang serius terhadap kondisi hamba. Dan waktu yang mulia ini dimulai sejak terbenamnya matahari pada Kamis sore berlanjut sampai tenggelamnya matahari pada Jum'at sore atau masuknya malam Sabtu. Perlu dicatat, keutamaan ini hanya berlaku bagi muslim saja. Tidak berlaku atas non-muslim. Sebagaimana ditunjukkan dalam bagian awal matannya, "Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at."

Dan keterangan ini hanya tanda atau indikasi baik bagi orang muslim yang meninggal pada hari tersebut. Tidak menjadi dasar pasti untuk memastikan secara personal bahwa dia benar-benar aman dari siksa kubur.

Wallahu Ta'ala A'lam.

sumber: voa-islam.com

Labels

5 Anak Muslim yang Ajaib (1) Al Qur'an (215) Asmaul Husna (1) cerita (62) doa (47) hadits (244) Haji (14) Iblis (6) islam (395) Jin (10) Kristologi (21) Kriteria Cowok Keren Versi Islam (4) Masjid (13) Nabi (30) Para Sufi (3) pengetahuan (20) Puasa (39) sahabat (48) Shalat (57) uswah (76) Wali (5)