Kita sering membayangkan para sahabat sebagai manusia-manusia yang selalu sejalan, tak pernah berbeda suara. Kenyataannya? Dua manusia terbaik setelah para nabi—Abu Bakar dan Umar—juga pernah berdebat. Keras, bahkan.
Bedanya, mereka meninggalkan untuk kita "buku panduan" tentang bagaimana berselisih tanpa saling melukai, dan bagaimana berdamai tanpa sisa dendam.
 |
Abu Bakar dan Umar boleh berbeda pendapat, tetapi tidak pernah berbeda adab—sampai akhir hayat, shaf mereka tetap berdampingan.
|
Perselisihan yang "Nyaris Mencelakakan"
Suatu hari, rombongan Bani Tamim datang menemui Rasulullah ﷺ. Nabi hendak menunjuk pemimpin bagi mereka. Abu Bakar mengusulkan satu nama: al-Qa'qa' bin Ma'bad. Umar mengusulkan nama lain: al-Aqra' bin Habis.
Perdebatan memanas. Abu Bakar berkata, "Kamu hanya ingin menyelisihiku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud menyelisihimu." Suara keduanya meninggi di hadapan Rasulullah ﷺ—dan saat itulah turun firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..." (QS. Al-Hujurat: 2)
Lalu perhatikan apa yang terjadi setelahnya—ini bagian yang paling indah. Tidak ada yang membela ego. Tidak ada yang merasa paling benar. Riwayat menyebutkan bahwa setelah peristiwa itu, Umar berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan suara begitu pelan hingga Nabi mesti memintanya mengulang. Abu Bakar pun demikian.
Mereka tidak menunggu diminta maaf. Mereka langsung memperbaiki adab, hari itu juga.
Berbeda Pendapat soal Tawanan Badar
Pada kesempatan lain, setelah Perang Badar, Rasulullah ﷺ bermusyawarah tentang nasib para tawanan. Abu Bakar berpendapat: bebaskan dengan tebusan—siapa tahu hati mereka kelak luluh dan masuk Islam. Umar berpendapat tegas: mereka adalah pemuka kekafiran yang memerangi umat Islam.
Nabi ﷺ mengambil pendapat Abu Bakar. Kemudian turun wahyu (QS. Al-Anfal: 67) yang isinya condong menguatkan pandangan Umar.
Bayangkan posisi Umar saat itu: pendapatnya "dibenarkan" oleh langit. Ia punya semua bahan untuk berkata, "Tuh, kan aku bilang juga apa." Tetapi riwayat tidak mencatat satu pun kalimat kemenangan dari mulutnya. Keesokan harinya, ia mendapati Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menangis, dan ia ikut menangis bersama mereka.
Perbedaan pendapat berhenti di pintu wahyu. Tidak dibawa pulang menjadi dendam.
Ketika Salah Satu Terlanjur Keras
Dalam sebuah riwayat dikisahkan: suatu ketika Umar berlaku keras kepada Abu Bakar dalam sebuah perselisihan. Umar menyesal, datang meminta maaf—tetapi Abu Bakar menolaknya.
Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau marah. Melihat kemarahan Nabi, Umar berlutut dan justru membela Abu Bakar: "Aku yang lebih bersalah, maka maafkanlah dia." Dua-duanya merendahkan diri; dua-duanya berebut menyalahkan diri sendiri, bukan lawan.
Entah siapa yang memulai minta maaf dan siapa yang menahan, akhirnya keduanya luluh. Karena begitulah mereka: berebut menjadi orang yang pertama merendah.
 |
Yang satu lembut seperti air, yang satu tegas seperti api. Islam tidak menjadikan mereka sama—Islam menjadikan mereka bersaudara.
|
Pelajaran untuk Kita Hari Ini
- Berselisih itu manusiawi; adab saat berselisih itu yang ilahiah. Abu Bakar dan Umar berbeda pendapat, tetapi tidak pernah berbeda adab.
- Sampaikan pendapat tanpa needing to win. Keduanya jujur menyampaikan pandangan, tetapi tidak merasa harus menang.
- Setelah keputusan diambil, dukung bersama. Tidak ada sabotase diam-diam, tidak ada "I told you so."
- Jangan biarkan dendam menginap. Nabi ﷺ mengajarkan: tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, dan yang terbaik adalah yang lebih dulu memberi salam (HR. Bukhari & Muslim).
- Lihat buktinya: ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Umar adalah penasihat terdekatnya. Ketika Abu Bakar wafat, Umar melanjutkan kebijakan-kebijakannya. Perselisihan tidak pernah meninggalkan bekas.
Penutup: Air dan Api yang Bersaudara
Abu Bakar lembut seperti air; Umar tegas seperti api. Islam tidak menjadikan mereka sama—Islah menjadikan mereka bersaudara.
Mungkin itu juga doa terbaik untuk rumah, kantor, dan grup keluarga kita: bukan tidak pernah berbeda, tetapi selalu tahu jalan pulang menuju damai.
FAQ
Ayat apa yang turun terkait perselisihan mereka?
QS. Al-Hujurat ayat 2, yang turun ketika suara Abu Bakar dan Umar meninggi saat berdebat di hadapan Rasulullah ﷺ perihal pemimpin Bani Tamim.
Apakah perselisihan mereka berlangsung lama?
Tidak. Mereka segera memperbaiki adab dan berdamai. Hingga akhir hayat, keduanya tetap menjadi mitra terdekat dalam memimpin umat.
Apa pelajaran terbesar untuk konflik rumah tangga atau kantor?
Bedakan antara perbedaan pendapat dan permusuhan. Sampaikan pandangan dengan jujur, terima keputusan dengan lapang, dan jadilah yang pertama merendah saat suasana memanas.
Belum ada tanggapan untuk "Perselisihan Abu Bakar dan Umar: Bagaimana Dua Sahabat Besar Menyelesaikan Konflik"
Posting Komentar