Ketika kita mendengar nama Nabi Muhammad ﷺ, imajinasi kita sering kali langsung tertuju pada sosok panglima perang yang gagah, negarawan yang brilian, atau pemimpin umat yang disegani. Jarang sekali kita membayangkan beliau dalam setting yang paling sunyi dan intim: di dalam rumah, bersama istrinya.
 |
Cinta tidak selalu butuh kemewahan. Bagi Rasulullah ﷺ, kasih sayang justru hidup dalam hal-hal sederhana—seperti dua cangkir yang berdampingan di meja yang sama.
|
Padahal, jika kita menelisik sejarah, ada sisi lain dari Rasulullah ﷺ yang begitu lembut, romantis, dan penuh perhatian. Beliau tidak hanya mengajarkan cara shalat atau berdagang, tetapi juga memberikan masterclass tentang bagaimana memperlakukan pasangan dengan penuh hormat dan cinta.
Lantas, seperti apa sebenarnya romantisme Rasulullah ﷺ di mata Khadijah dan Aisyah?
Khadijah: Cinta yang Tak Pernah Pudar Meski Ia Telah Tiada
Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha adalah cinta pertama dan pendukung terbesar Rasulullah ﷺ. Meski Khadijah telah wafat bertahun-tahun sebelum beliau, bayang-bayang cintanya tidak pernah benar-benar pergi dari hati sang Nabi.
Salah satu kebiasaan Rasulullah ﷺ yang sering membuat Aisyah radhiyallahu 'anha cemburu adalah bagaimana beliau selalu mengingat Khadijah. Ketika beliau menyembelih kambing, beliau akan membagi dagingnya dan mengirimkannya kepada teman-teman dekat Khadijah.
Suatu hari, Aisyah tidak bisa menahan diri dan berkata, "Seolah-olah tidak ada wanita lain di dunia ini selain wanita tua itu (Khadijah)."
Apa jawaban Rasulullah ﷺ? Beliau tidak marah atau membentak. Dengan tenang dan penuh kelembutan, beliau menjawab, "Aku telah dianugerahi cintanya. Dan dia telah memberiku keturunan, sementara wanita-wanita lain tidak." (HR. Bukhari).
Pelajaran kecil yang sangat dalam: Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak pernah melupakan jasa dan kenangan manis pasangan, bahkan ketika masa-masa sulit telah berlalu. Menghargai masa lalu pasangan adalah bentuk validasi tertinggi.
Aisyah: Panggilan Sayang, Perlombaan, dan Gelas yang Sama
Jika bersama Khadijah beliau adalah pria yang penuh rasa syukur, maka bersama Aisyah, Rasulullah ﷺ menunjukkan sisi yang sangat playful dan hangat.
Beliau tidak memanggil Aisyah dengan nama kaku. Beliau sering memanggilnya dengan panggilan kesayangan, "Ya Humaira" (wahai gadis yang pipinya kemerah-merahan). Sebuah detail kecil, tapi bagi wanita, dipanggil dengan nama khusus oleh suaminya adalah bahasa cinta yang sangat kuat.
Ada pula kisah terkenal ketika mereka sedang berjalan. Rasulullah ﷺ menantang Aisyah berlomba lari, dan Aisyah menang karena tubuhnya masih ringan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Aisyah sudah sedikit berisi dan mungkin lupa kejadian itu, beliau menantangnya lagi. Kali ini Rasulullah ﷺ yang menang, lalu beliau tersenyum dan berkata, "Ini balasan untuk kekalahan yang dulu." (HR. Abu Dawud).
Beliau juga sangat memperhatikan hal-hal intimate yang sering dianggap remeh. Ketika minum dari sebuah cangkir, beliau akan mencari bekas bibir Aisyah di tepi gelas, lalu meletakkan bibirnya tepat di tempat yang sama (HR. Muslim). Ini adalah cara beliau berkata tanpa kata-kata: Aku ingin sedekat mungkin denganmu.
Membantu Pekerjaan Rumah: Meruntuhkan Ego "Tugas Wanita"
Mungkin ada anggapan di beberapa budaya bahwa urusan dapur dan rumah tangga adalah "pekerjaan rendahan" yang hanya boleh dilakukan istri. Rasulullah ﷺ meruntuhkan stigma itu seribu empat ratus tahun yang lalu.
Ketika Aisyah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ saat berada di rumah, beliau menjawab:
"Beliau sibuk melayani keluarganya (membantu pekerjaan rumah). Jika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat." (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain, Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menjahit bajunya sendiri, menambal sandalnya, dan memerah susu kambing. Beliau tidak merasa egonya terluka hanya karena memegang sapu atau membantu di dapur. Justru, bagi beliau, melayani keluarga adalah bagian dari ibadah dan bentuk kasih sayang yang paling nyata.
Seni Mendengarkan: Berdiri Sampai Aisyah Bosan
Suatu hari, ada rombongan orang Habasyah yang sedang bermain tombak dan menari di halaman masjid. Rasulullah ﷺ tahu Aisyah yang saat itu masih sangat muda suka menonton hiburan.
Beliau tidak sekadar menyuruh Aisyah menonton, tetapi beliau berdiri, membiarkan Aisyah bersandar di antara kaki dan dada beliau, dan menutupi Aisyah dengan selendangnya agar merasa aman dan nyaman. Rasulullah ﷺ terus berdiri menonton sampai Aisyah sendirilah yang merasa bosan dan meminta untuk kembali ke rumah (HR. Bukhari dan Muslim).
Coba bayangkan kesabarannya. Seorang pemimpin negara, bersedia berdiri berjam-jam hanya untuk menemani istrinya menikmati sore yang menyenangkan. Beliau mengajarkan bahwa mendengarkan dan menemani pasangan melakukan hobi mereka adalah bentuk quality time yang sesungguhnya.
 |
Beliau menjahit pakaian dan menambal sandalnya sendiri. Melayani keluarga bukan menurunkan wibawa seorang suami—melainkan menaikkan derajat cinta.
|
Kesimpulan: Cinta Ada pada Detail Kecil
Dari Khadijah hingga Aisyah, kita belajar bahwa romantisme ala Rasulullah ﷺ bukanlah tentang hadiah mewah atau puisi yang berbunga-bunga. Romantisme beliau ada pada panggilan sayang, pada bekas bibir di tepi gelas, pada kesediaan membantu mencuci piring, dan pada ingatan yang tak pernah pudar.
Mungkin, sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita membuat pasangan kita merasa dihargai hari ini? Karena teladan terbaik dari langit telah menunjukkan, cinta yang agung selalu bersembunyi di dalam hal-hal yang paling sederhana.
FAQ
Apakah Rasulullah ﷺ pernah memukul istrinya?
Tidak pernah. Aisyah radhiyallahu 'anha secara tegas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul istrinya maupun pelayannya dengan tangan beliau, kecuali dalam konteks membela agama Allah (HR. Muslim).
Bagaimana jika suami istri berbeda pendapat?
Rasulullah ﷺ dan istrinya juga pernah mengalami perselisihan. Namun, beliau tidak pernah menggunakan kata-kata kasar, tidak membentak, dan tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu. Beliau lebih memilih untuk diam sejenak atau memberikan ruang sebelum akhirnya berbaikan dengan lembut.
Apa sunnah sebelum tidur bersama pasangan?
Rasulullah ﷺ biasa mengumpulkan kedua telapak tangannya, meniupnya, membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau. Beliau juga sering mengobrol ringan dengan Aisyah sebelum tidur.
Belum ada tanggapan untuk "Rasulullah sebagai Suami: Hal-Hal Kecil yang Membuat Khadijah dan Aisyah Merasa Dicintai"
Posting Komentar