Kita semua hafal 17 Agustus. Tapi boleh jujur — berapa banyak dari kita yang pernah bertanya: lalu, apa yang terjadi keesokan harinya?
Pagi itu, 18 Agustus 1945, Mohammad Hatta menerima pesan yang membuatnya terdiam: saudara-saudara dari Indonesia Timur keberatan dengan tujuh kata dalam Piagam Jakarta — "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Jika tujuh kata itu tetap, sebagian saudara sebangsa mungkin tidak ikut bergabung. Dan Indonesia yang baru sehari lahir, bisa retak sebelum sempat berdiri.
 |
| "Mereka tidak sedang kehilangan. Mereka sedang menanam. 🇮🇩" |
Maka pagi itu juga, terjadi sebuah pertemuan singkat. Para tokoh Islam — Ki Bagoes Hadikoesoemo, KH Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Mohammad Hasan — duduk bersama. Tidak berhari-hari. Tidak dengan drama. Dalam hitungan menit, mereka mengambil keputusan yang sampai hari ini masih membuat para sejarawan menggeleng takjub: melepas tujuh kata itu, dan menggantinya dengan "Ketuhanan Yang Maha Esa".
Uswah yang Jarang Diajarkan
Coba resapi sebentar. Mereka tidak dipaksa. Secara hitungan suara, mereka bisa saja bertahan. Tapi mereka memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih berat: mengalah demi yang lebih besar.
Inilah uswah yang tidak banyak masuk buku pelajaran: pemimpin yang tidak bertanya "apa hakku?", tapi "apa yang terbaik untuk umat seluruhnya?" Sikap itu seperti gema dari perintah yang mereka imani sejak lama: berpegang teguhlah pada tali Allah semuanya, dan janganlah bercerai-berai (QS Ali 'Imran: 103).
Mereka tidak sedang kehilangan. Mereka sedang menanam — dan yang kita petik hari ini adalah Indonesia yang utuh.
Nah, pernahkah kamu mendengar kisah ini sebelumnya? Dan siapa tokoh yang paling ingin kamu teladani sikapnya? Ceritakan pelan-pelan di komentar, ya. 🤍
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Sehari Setelah Proklamasi: Uswah Para Ulama yang Melepas "Tujuh Kata" Demi Indonesia"
Posting Komentar