Tuesday, September 30, 2014

3 Macam Hukum Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Hukum asal berkorban disyariatkan untuk orang hidup yang mampu.

Sebagaimana yang telah dikerjakan Nabi SAW dan para sahabatnya, di mana mereka berkurban untuk diri mereka dan keluarga mereka. Adapun mayit (orang yang sudah meninggal) tidak terkena lagi khitab perintah berkurban. Sehingga anggapan sebagian masyarakat bahwa berkurban itu hanya dikerjakan dari orang yang sudah meninggal adalah keyakinan tak berdasar.

Adapun berkurban untuk (atas nama) orang yang sudah meninggal terbagi menjadi tiga macam:




Pertama: mengikutkan orang yang sudah meninggal dalam pahala kurban yang dilakukan orang yang hidup. Artinya, seseorang yang berkurban untuk dirinya dan keluarganya dengan menyertakan niat pahalanya untuk orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia, maka bentuk semacam ini dibolehkan. Bahkan dianjurkan sebagaimana berkurbannya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk diirnya dan keluarganya; di antara mereka adalah orang yang meninggal sebelum beliau.

Kedua: Berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia karena menjalankan wasiatnya. Ini dibolehkan, bahkan harus ditunaikan. Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 181)

Ketiga: berkurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai kebaikan hati dari orang hidup supaya mayit tersebut mendapat tambahan pahala. Berkurban atas nama mayit ini tanpa ada wasiat darinya dan bukan untuk menunaikan nadzarnya.

. . . mengkhususkan kurban untuk/atas nama orang mayit bukanlah termasuk sunnah yang harus diagung-agungkan. Sebabnya, Nabi SAW tidak pernah mengkhususkan kurban atas nama orang yang sudah meninggal dunia . . .



Dalam bagian ini terdapat tiga pendapat ulama yang masyhur tentang hukumnya:

Pertama: tidak sah berkurban atas nama mayit tanpa ada wasiat darinya. Jika mayit berwasiat saat masih hidup maka sah kurban atas namanya sepeninggalnya. Ini adalah pendapat Madhab Syafi’iyah. Imam Nawawi Rahimahullah berkata: “Tidak sah kurban atas nama orang lain tnapa seizinnya, dan tidak pula atas nama mayit jika ia tidak berwasiat dengannya.” (Al-Minhaj: 1/248)

Kedua: hukumnya makruh. Ini pendapat Madhab Malikiyah. Imam Khalil Rahimahullah berkata dalam Mukhtasharnya saat menyebutkan perkara-perkara yang dimakruhkan dalam udhiyah, “ Dan dimakruhkan . . . . dan menunaikannya atas nama mayit.”

Ketiga: sah kurban atas nama mayit tanpa wasiat darinya dan pahalanya sampai kepadanya. Ini pendapat mayoritas ulama. Dan inilah insya Allah pendapat yang lebih kuat diqiyaskan dengan shadaqah yang dikeluarkan atas namanya.

. . . Hukum asal berkorban disyariatkan untuk orang hidup yang mampu. . . .

Perlu dicatat bahwa menghususkan kurban untuk/atas nama orang mayit bukanlah termasuk sunnah yang harus diagung-agungkan. Sebabnya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah menghususkan kurban atas nama orang yang sudah meninggal dunia dari keluarga, kerabat atau sahabat beliau.

Tidak ditemukan satu riwayat-pun bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berkurban atas nama istri tercinta beliau, Khadijah. Tidak pula atas nama anak-anak beliau yang wafat saat beliau masih sugeng. Tidak pula ada keterangan bahwa beliau pernah berkurban atas nama Hamzah yang memiliki kedudukan istimewa bagi beliau dari kalangan kerabatnya.

Wallahu A’lam.

sumber: voa-islam.com

Sunday, September 28, 2014

Mengenai Larangan Potong Kuku dan Rambut Mendekati Qurban

Larangannya haram atau makruh ya memotong kuku ketika akan berkurban?




Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum rinci atas larangan ini bagi orang yang ingin berkurban ketika sudah memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah, antara haram dan makruh.
Sa’id bin Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud, dan sebagian pengikut imam Syafi’i berpendapat, diharamkan baginya mengambil sesuatu dari rambut dan kukunya sehingga dia menyembelih hewan kurbannya pada hari penyembelihan.

Imam Malik, Syafi’i, dan sebagian sahabatnya yang lain berpendapat, dimakruhkan –dengan makruh tanzih- bukan diharamkan. Kesimpulan ini didasarkan kepada hadits Aisyah, “Dahulu aku memintal tali-tali untuk dikalungkan pada unta Nabi SAW, kemudian beliau mengalungkannya dan mengirimkannya. Sementara tidak diharamkan atas beliau apa yang telah dihalalkan Allah hingga beliau menyembelih kurbannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka mengatakan, para ulama bersepakat bahwa ia tidak diharamkan memakai pakaian dan wewangian seperti diharamkan atas orang yang sedang ihram. Ini menunjukkan suatu anjuran bukan kewajiban.



Karenanya Imam syafi’i berpendapat larangan ini tidak menunjukkan keharaman. Sementara hadits-hadits larangan dibawa kepada makna makruh tanzih.

Wallahu A'lam

sumber: voa-islam.com

Saturday, September 27, 2014

Larangan Pemain Mengenakan Hijab di Asean Games

Tim basket putri Qatar menutuskan untuk menarik diri dari ajang Asien Games 2014.

Langkah itu diambil menyusul larangan pemain mengenakan hijab oleh panitia penyelenggara. "Tim sudah menarik dari dan bersiap-siap untuk kembali ke Qatar," kata pemimpin delegasi Qatar, Khalid al-Jabir dilansir media, Jumat 26 September 2014.





Kata dia, tim terpaksa pulang kampung karena tidak adanya pilihan. Banyak atlet perempuan yang ingin berpartisipasi dalam permainan ini. Di sisi lain, mereka (penyelenggara) mengecilkan wanita muslim yang ingin bermain dengan hijab.

Kamis sore, pebasket putri Qatar sedianya bermain melawan Nepal, namun mereka tak kunjung muncul di arena.


Di hari sebelumnya, mereka juga harus rela kalah walk out (WO) sebelum bertanding saat menghadapi tim Mongolia. Penyebabnya, mereka dilarang bermain karena memakai hijab.

Tragedi yang menimpa Qatar ini tentu saja menghancurkan motto Asian Games Incheon, yaitu 'Diversity Shining Here' atau berarti 'Keanekaragaman Bersinar di Sini.'

Juru bicara komite Asian Games Icheon Anna Jihyun mengatakan, pemain Qatar menolak untuk melepas hijab. Akibatnya kemenangan diberikan kepada pihak lawan, yakni Mongolia.




"Kami tidak bisa melepasnya demi agama kami, kami kehilangan pertandingan menghadapi Mongolia," kata salah seorang pemain bernama Amal Mohamed A Mohamed.

Meskipun cabang olahraga bowling dan bulu tangkis masih membolehkan penggunaan hijab, namun Federasi Basket Internasional (FIBA) masih melarang penggunaan hijab.

Peraturan tentang penutup kepala di permainan basket menjadi fokus tahun ini, ketika dua pebasket putra yang juga muslim di India menggunakan turban di kepala mereka selama kejuaraan Piala Asia Juli lalu di China.

Awal bulan ini, FIBA mengumumkan peraturan percobaan selama dua tahun yang memungkinkan pemain, untuk memakai penutup kepala setelah meminta izin kepada ofisial. Dan pertandingan itu harus merupakan kompetisi domestik. Sedangkan Asian Games adalah kejuaraan internasional.

sumber: Dream
editor: -

Friday, September 26, 2014

6 Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

Keistimewaan Bulan Zulhijjah

Hadits ini dan hadits-hadit lainnya menunjukkan bahwa sepuluh hari ini lebih utama dari seluruh hari dalam setahun. Keutamaan sepuluh hari pertama ini diperkuat dengan beberapa bukti di bawah ini:

1. Allah Ta’ala telah bersumpah dengannya. Dan bersumpahnya Allah dengan sesuatu menjadi dalil urgensinya dan besarnya manfaat. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Ibnu Abbas, Ibnu al-Zubair, Mujahid, dan beberapa ulama salaf dan khalaf berkata: Bahwasanya dia itu adalah sepuluh hari pertama Dzil Hijjah. Ibnu Katsir membenarkan pendapat ini (Tafsir Ibni Katsir: 8/413)

2. Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam pernah bersaksi bahwa hari-hari tersebut adalah seutama-utamanya hari-hari dunia.




Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam beliau bersabda

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامِ الْعَشْرِ – يَعْنِيْ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ – قِيْلَ: وَلَا مِثْلُهُنَّ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا مِثْلُهُنّ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ عُفِرَ وَجْهَهُ بِالتُّرَابِ

“Hari-hari di dunia yang palung utama adalah hari-hari sepuluh -yakni sepuluh hari pertama dalam bulan Dzul Hijjah-, Ada yang bertanya, ‘tidak pula sama baiknya dengan (jihad) di jalan Allah..?’ Beliau menjawab, ‘tidak pula sama dengan (jihad) di jalan Allah melainkan seorang pria yang wajahnya penuh dengan debu tanah’.” (HR. Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Syaikh Al-Albani di Shahihut Targhib wat Tarhib dan Al-Jami’ush Shahih)
3. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya. Sesungguhnya kemuliaan masa diperoleh oleh setiap penduduk negeri, sementara keutamaan tempat hanya dimiliki oleh jama’ah haji di Baitul Haram.

4. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk memperbanyak tasbih, tahmid, dan takbir pada sepuluh hari tersebut. Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu 'Anhuma, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR. Ahmad 7/224, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya).




5. Di dalamnya terdapat hari ‘Arafah. Hari 'Aradah adalah hari yang disaksikan yang di dalamnya Allah menyempurnakan ajaran dien-Nya sementara puasanya akan menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun.

6. Di dalamnya terdapat ibadah ‘Udhiyah (berkurban) dan haji. Dalam sepuluh hari ini terdapat yaum nahar (hari penyembelihan) yang secara umum menjadi hari teragung dalam setahun. Hari tersebut adalah haji besar yang berkumpul berbagai ketaatan dan amal ibadah padanya yang tidak terkumpul pada hari-hari selainnya.

Sesungguhnya siapa yang mendapatkan sepuluh hari bulan Dzulhijjah merupakan bagian dari nikmat Allah yang besar atas hamba. Hanya orang-orang shalih yang bersegera kepada kebaikan lah yang bisa menghormatinya dengan semestinya. Dan kewajiban seorang muslim adalah merasakan nikmat ini, memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memberikan perhatian yang lebih, dan menundukkan dirinya untuk menjalankan ketaatan.

Sesungguhnya di antara karunia Allah Ta’ala atas hamba-Nya adalah menyediakan banyak jalan berbuat baik dan meragamkan berbagai bentuk ketaatan agar semangat seorang muslim kontinyu dan tetap istiqamah menjalankan ibadah kepada Tuhannya.

sumber: voa-islam.com

Pertemuan Kesaksian Pendeta Nasrani dan Rasulullah SAW

Di usia yang masih kecil sudah menunjukkan hal-hal unik bahwa beliau adalah orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk menyebarkan kebenaran di muka bumi ini.

Padang pasir Sahara kering kerontang. Sejauh mata memandang cuma lautan pasir tandus berbatu-batu, hanya satu-dua pohon kurma berdebu. Terik matahari membakar tubuh.

Peluh yang berlelehan segera kering, lenyap menguap. Angin kering yang bertiup menambah rasa haus. Senyap. Sudah berhari-hari kafilah itu menempuh perjalanan yang meletihkan. Tapi, remaja kecil dalam rombongan kafilah tersebut tetap saja tangkas dan riang. Tak tampak rasa letih di wajahnya.


Lebih-lebih ketika kafilah dagang pimpinan Abu Thalib itu sampai di perbatasan dekat Bashra, antara Jazirah Arab dan Syam. Entah mengapa, anak kecil itu kelihatan sangat bahagia. Agaknya ada sesuatu yang menunggunya, yang bakal memantapkan martabatnya di masa depan, karena itu sangat berharga bagi masa depannya. Anak itu tiada lain adalah Muhammad (Shallallhu ‘alaihi wasallam), yang kala itu berusia 12 tahun.





Siang itu, Abu Thalib memutuskan untuk beristirahat dan berkemah di luar Bashra. Maka segenap anggota rombongan pun menambatkan tali pengikat unta dan menurunkan semua beban, baik barang dagangan maupun bekal makanan. Abu Thalib duduk di sebuah batu, bersandar di sepokok pohon kurma, ditemani si kecil Muhammad(Shallallhu ‘alaihi wasallam), kemenakannya. Belum lama mereka beristirahat meluruskan kaki, seorang laki-laki mendatangi mereka. Dari pakaiannya, tampaknya ia seorang pendeta Nasrani. Sejak tadi ia memang memperhatikan dan mengawasi kemenakan Abu Thalib tersebut.

Tanpa ditanya, pendeta tua berjenggot dan berjubah lusuh itu memperkenalkan diri, “Nama saya Buhaira, saya pengikut ajaran Isa Almasih. Apakah betul anak ini bernama Yang Terpuji?”

Abu Thalib yang ternganga keheranan, mengangguk. “Dari mana Tuan tahu namanya? Namanya Muhammad, artinya memang Yang Terpuji,” katanya keheranan.




“Bukankah ada tanda semacam cap di punggungnya?” tanya pendeta itu lagi seperti penasaran. Sekali lagi Abu Thalib mengangguk, dan sekali lagi ia tercengang.

“Bukankah dia dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian ibunya juga meninggal dunia?” tanya pendeta itu lagi.

“Betul,” jawab Abu Thalib kebingungan.

Akhirnya dengan tenang pendeta Buhaira berkata, “Kalau demikian halnya, jagalah dia baik-baik. Sebaiknya Tuan jangan terlalu lama berada di negeri Syam. Sebab, namanya sudah dijelaskan dalam kitab suci kaum Yahudi, Taurat. Jika mengetahui siapa kemenakanmu yang sebenarnya, mereka pasti akan menyakiti dan membunuhnya.”

sumber: voa-islam.com

Wednesday, September 24, 2014

Depag akan Dihapus Era Jokowi Benarkah

Entah benar atau tidak isu yang sudah beredar di ibukota Jakarta nantinya, bisa dilihat pada saat pelantikan para menteri dan menteri negara di bawah kekuasaan Jokowi.

Hati kaum Muslimin terguncang dengan beredarnya 'isu' secara luas, bakal dihapusnya Kementerian Agama diganti Kementerian Urusan Haji, Zakat dan Wakaf. Ini bukan sekadar mereduksi (mengubah) nama semata, tapi pasti akan mempunyai dampak.

Departemen Agama lahir sejak kemerdekaan, dan bagian 'political-will' pemerintah Soekarno kepada umat Islam, dan sekarang akan dihapus. Kementerian Agama akan sekadar mengurus haji, zakat dan wakaf. Sedangkan fungsi-fungsi lainnya, akan dihapus.

Termasuk sekarang sudah beredar luas di masyarakat, tentang akan ditutupnya Kantor Urusan Agama (KUA), di daerah-daerah, ekses dari pembubaran Kementerian Agama.

Memang, inti dari rezim Jokowi-JK itu, negara tidak akan lagi melakukan campur tangan terhadap urusan agama, dan urusan agama sebagai urusan pribadi, dan masalah hak dasar individu, negara tidak boleh campur tangan. Termasuk soal agama. Bebas rakyat memilih agama atau tidak beragama.

Sekulerisme akan diterapkan total. Pemisahan antara negara dan agama. Seorang warga keturunan Cina kristen, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), terhadap UU Perkawinan tahun 1974, dan diangggap membatasi perkawinan. Melarang perkawinan beda agama, perkawinan antar jenis, dan lainnya. Ini yang sekarang berlangsung.




Tujuan golongan Kristen yang sekarang ini berada di belakang Jokowi, balas dendam, dan ingin menghancurkan golongan Islam dengan menggunakan tangan kekuasaan Jokowi. Lembaga yang selama ini mewakili kepentingan golongan Islam, dan menjadi lembaga yang mengurusi kepentingan umat Islam, bukan semata menyangkut masalah haji, zakat dan wakaf, tetapi pendidikan sosial, aqidah dan lainnya, dihapus. Ini langkah-langkah yang bertujuan menghancurkan Islam dan umatnya.

Bahkan, dampak lainnya, tidak adanya Kementerian Agama, maka SKB Tiga Menteri, yang mengatur tata cara penyebaran agama dan pendirian rumah ibadah, pasti akan ikut tergusur. Sudah lama golongan Kristen menuntut pencabutan tentang SKB Tiga Menteri, karena dianggap melanggar kebebasan beragama.

Presiden SBY pun dilaporkan oleh golongan Kristen kepada Lembaga Hak-Hak Asasi PBB, karena dianggap tidak dapat melindungi golongan minoritas di Indonesia. Seperti terkait dengan Gereja Yasmin di Bogor.

Padahal, Kementerian Agama itu, sejak zaman kemerdekaan, sampai hari ini, sebagai tempat golongan NU (Nahdhatul Ulama), dan kursi kementeri agama itu, selalu di tangan NU. Tapi, sekarang mau dikecilkan dan dipangkas oleh rezim Jokowi.




Di bagian lain, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tidak tahu isu tentang penghapusan Kementerian Agama menjadi Kementerian Urusan Haji, Zakat dan Wakaf. Hal ini disampaikan Lukman dalam pertemuan dengan pimpinan harian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin siang (16/9).

"Menurut saya keberadaan Kementerian Agama masih sangat penting," katanya. Hal itu disampaikan Lukman menjawab pertanyaan pengurus PWI. Lukman mengatakan dirinya sejak pagi tadi mendapatkan pertanyaan yang sama. "Tapi saya betul-betul tidak tahu," katanya lagi.

Menangislah warga Nahdiyyin (NU) yang sudah memberikan suaranya kepada Jokowi. Sama memberikan 'golok' untuk menyembelih leher mereka.

Depag akan Dihapus Era Jokowi Benarkah?

sumber: Voa Islam

Monday, September 22, 2014

Anak-Anak Muslim Kelud Kediri Nyanyikan Lagu Dalam Yesus Kita Bersaudara

Ini heboh dan menghebohkan, apakah video yang diunggah ini benar adanya bahwa anak-anak muslim (yang berhijab) disuruh menyanyikan pujian kepada Yesus, yang artinya pula mereka diajarkan untuk murtad, keluar dari Islam dengan perlahan-lahan melalui sebuah nyanyian dan pujian.

Ironis, duka pengungsi bencana alam Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur, diwarnaii isu SARA, yakni, isu pemurtadan anak-anak Muslim. Saat ini beredar video bertajuk “Kristenisasi Muslim di Kelud” yang diunggah di situs Youtube.




Video berdurasi 47 detik itu diunggah oleh akun Save Moeslem pada 15 September 2014. Dalam video tampak anak-anak berjilbab menyanyikan lagu “Pujian Yesus”. Video itu dilengkapi dengan sub title suara anak-anak berjilbab itu.






Isu SARA itupun meramaikan dunia sosial media. Akun @Inidia2014 menyematkan video itu ke akun-akun ulama dan tokoh Islam. Di antaranya, KH Abdullah Gymnastiar (@aagym), Ustadz Yusuf Mansur (@Yusuf_Mansur), Ustadz Bachtiar Nasir (@bachtiarnasir), dan Ustadz Arifin Ilham (@marifinilham).

@Inidia2014 menulis: “Ironis, Ank2 muslim Gn. Kelud diajarkan pujian Yesus.https://www.youtube.com/watch?v=Baj4kpoW2S8 … @aagym @Yusuf_Mansur @bachtiarnasir @marifinilham #SaveMoslem.”

sumber: [gnesw/intel/ahmed/may/voa-islam.com]

Friday, September 19, 2014

Benarkah Hitler Kejam dan Membantai Yahudi

HITLER adalah sejarah panjang bagaimana bangsa Yahudi diperlakukan di dunia ini jika sejarah versi itu bisa dipercayai, tentu saja. Karena efek pembantaian yang dilakukan oleh Hitler terhadap Yahudi nyatanya adalah tanah Palestina, sesuatu yang sama sekali jauh dari Jerman.





Apakah Hitler kejam? Apakah Hitler seperti yang diberitakan oleh Amerika? Dan kenapa Hitler membinasakan Yahudi?

Barat dan Amerika telah membuat citra Hitler di mata dunia sebagai sosok yang bengis. Di film manapun di Amerika tentang Yahudi, maka Hitler selalu membantai Yahudi sampai ke akar akarnya, film-film dibuat agar seluruh dunia tumbuh rasa sayang kepada Yahudi dan membenci Hitler. Jika Anda “The Boy in the Striped Pajamas” maka Anda akan merasa iba kepada Yahudi.

Hitler dulu pernah berkata, “Bisa saja saya memusnahkan semua Yahudi di dunia, tapi saya sisakan sedikit saja yang hidup. Agar Anda tahu alasan saya membunuh mereka”. Sekarang kita bisa kita lihat apa yang sudah diperbuat Yahudi pada dunia, terutama pada negeri penuh sengketa, Palestina. Mereka membunuh masyarakat Palestina sebagaimana mudahnya kita membunuh nyamuk.
Sejak kecil, anak-anak Yahudi didoktrin untuk membenci orang Islam. Ayat-ayat Talmud konon menghalalkan mereka membunuh orang-orang selain berdarah Yahudi. Mereka bangga dengan darah Yahudinya, mereka menganggap rendah orang yang bukan Yahudi. Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama menurut Talmud adalah “sampah”, begitu menurut kitab Talmud. Menurut pandangan mereka, secara mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrem oleh Shneur Zalman dari Lyadi.

Pendiri Lubavitcher-Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’ (Kaum selain Yahudi). Bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’, Shneur melanjutnya menyatakan, “Sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin diselamatkan dengan cara apa pun.”

Jadi karena tidak bisa diselamatkan, semua kaum selain Yahudi halal darahnya untuk dibunuh. Diyakini, ajaran-ajaran kitab inilah yang menyebabkan bangsa Yahudi tidak mempunyai hati nurani.

Kitab-kitab ini diajarkan dari sekolah dasar, sehingga sejak kecil anak-anak Yahudi yang masih polos membenci Islam, sehingga lama kelamaan kebencian itu mendarah daging dan membuat anak itu menjadi penghancur Islam. Jadi bukanlah suatu pemandangan yang aneh jika ada anak Yahudi yang tertangkap kamera berani menendang ibu muslimah Palestina.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ




artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
QS. al-Baqarah (2) : 120).

Monday, September 15, 2014

7 Kiat Hadapi Malas Shalat

Shalat adalah termasuk amal perbuatan manusia yang pertama kali dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat. Maka kita akan melaksanakan shalat sebaik-sebaik shalat agar kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung.

Tentu menjadi kewajiban bagi setiap umat Islam untuk melaksanakan shalat. Dengan shalat maka kita dapat membedakan agama Islam dengan agama yang lainnya.

Karena hanya Islamlah yang menganjurkan umatnya untuk melaksanakan shalat. Tapi, beberapa fakta mengungkapkan bahwa tidak setiap umat Islam melaksanakan salah satu kewajibannya ini. Masih saja ada rasa malas pada dirinya untuk melaksanakan shalat. Padahal, Allah SWT telah memperingatkan kita tentang pedihnya siksa orang yang meninggalkan shalat maupun yang lalai dalam menjalankannya.
Bagi Anda yang kini termasuk orang tersebut, yakni orang yang malas dalam melaksanakan shalat, segeralah rubah diri Anda untuk melakukan hal yang dianjurkan oleh Allah SWT itu. Bila cukup sulit untuk merubah rasa malas itu, coba deh Anda lakukan 7 tips berikut.





7 Kiat Hadapi Malas Shalat


1. Menghadirkan dalam hati untuk apa kita ada di dunia.

Kita hidup di dunia yakni untuk beribadah kepada Allah Rabb semesta alam. Diantara ibadah yang diperintahkan kepada kita adalah shalat. Maka mengerjakan shalat adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya.

2. Berpikirlah dalam hati bahwa ibadah shalat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan.

Dan termasuk amal perbuatan manusia yang pertama kali dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat. Maka kita akan melaksanakan shalat sebaik-sebaik shalat agar kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung.




3. Segala perbuatan tergantung pada niatnya.

Niatkan pada diri kita untuk selalu shalat tepat di awal waktu. Bersungguh-sungguhlah melawan rasa malas itu. Jangan sampai rasa malas menguasai diri kita.

4. Biasakanlah untuk shalat lima waktu berjama’ah di masjid (bagi pria).

Walau pada awalnya terasa berat tapi kalau sudah dibiasakan akan terasa ringan bahkan kita akan merasa rugi bila meninggalkannya.

5. Jika rasa malas itu kembali menggerogoti kita, lawan saja.

Ingat kewajiban kita sebagai orang muslim, ingatlah balasan/adzab Allah terhadap orang-orang yang meninggalkan shalat 5 waktu.

6. Jika adzan telah berkumandangkan, segeralah untuk mengambil air wudhu.

Usahakan bila sedang melakukan aktivitas penting, berhentilah sejenak. Ini mungkin yang susah dilakukan, tapi menunda shalat akan menimbulkan rasa malas nantinya. Jangan tunda, segera laksanakan shalat.

7. Komitmen terhadap diri sendiri.

Shalat itu kewajiban, dan kewajiban itu harus dilaksanakan. Lakukan terus secara konsisten, sehingga shalat pun berubah fungsi menjadi kebiasaan yang ringan dilakukan.

sumber: [rika/islampos/nabildzakymurtadha/insomniague/refea.mywapblog], islampos.com

Saturday, September 13, 2014

2 Waktu Tidur yang Dilarang dalam Islam

Dalam Islam ada 2 buah waktu yang sangat dilarang untuk melaksanakan aktivitas tidur yaitu sebelum isyak dan sesudah subuh. Keduanya ada dalil yang menguatkannya.

TIDUR merupakan aktivitas yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Rasul mengatakan bahwa tubuh kita mempunyai hak untuk beristirahat. Tidur juga meremajakan kembali kulit tubuh dan menyegarkan jiwa. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang menurut Rasul, hendaknya dihindari.
1. Tidur Sebelum Shalat Isya’

Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).





Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja”.

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat”.

2. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya,” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).

Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata : “Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalig – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

sumber: islampos.com

Friday, September 12, 2014

3 Sebab Istri Masuk Neraka

Wanita kalau sudah bersuami maka hati-hatilah kalian karena ada tiga hal yang bisa menyebabkan seorang istri masuk neraka, bukan hanya sedikit, tapi banyak jumlahnya.

“AKU melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita,” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim).

Timbul pertanyaan, apa yang menjadi penyebab para wanita lebih banyak menghuni neraka? Banyak hal, ternyata.

Namun, dengan tiga hal saja ternyata sudah cukup mendekatkan diri pada hal pedih di akhirat nanti.

3 Sebab Istri Masuk Neraka


1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Seperti hadits Rasulullah SAW: “ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda shallallohu Alaihi Wasallam menjawab : “karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang isteri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah durhaka dengan ucapan, durhaka dengan perbuatan, durhaka dengan ucapan dan perbuatan.




3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang wajib ditutupnya dari pandangan lelaki bukan mahramnya.

Sebagaimana yang dihuraikan oleh Ibnul ‘Abdil Barr rahimahu ‘Llah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallohu Alaihi: Wasallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan: “Wanita-wanita yang dimaksudkan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan tubuhnya atapun yang menunjukkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”

sumber: islampos.com

Thursday, September 11, 2014

Kisah Dosen yang Menginjak-injak Al-Quran

AL-QURAN sangat dijaga kesuciannya oleh Allah SWT. Barang siapa menghina Al-Qur’an, ia akan diberi pelajaran oleh Allah. Seperti kisah berikut ini.

Dosen: “Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara Amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Qur’an ditulis saja kok. Yang Qur’annya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan.”

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur’an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mahasiswa: “Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisis bapak yang ada di sini,” ujarnya sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

“Hhuuhhh….” semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.

Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh.

Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.



Dosen: “Kamu?! Berani melecehkan saya? Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya? Lancang kamu ya?” Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: “Marah ya, Pak? Saya kan cuma menginjak kertas, Pak. Ilmu dan pikiran yang Bapak punya kan ada di kepala Bapak. Ngapain Bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala Bapak. Kayaknya Bapak yang perlu dicerdaskan ya?”

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat.

sumber: islampos.com

Sunday, September 7, 2014

Benarkah Tidak Boleh Bepergian pada Hari Jumat

Dijadikannya hari Jum’at sebagai hari ibadah bukan berarti seorang muslim tidak boleh melakukan safar pada hari Jum’at.

Apalagi jika ada maslahat dan kepentingan yang mendesak. Safar pada hari Jum’at tetap dibolehkan –sebagaimana hukum asalnya-, walaupun menjelang zawal (matahari tergelincir) sekitar jam 11.00 WIB. Namun juka sudah zawal dan dikumandangkan adzan Jum’at (adzan saat imam naik mimbar) seorang muqim tidak boleh berangkat bersafar.

Abdurrazaq Rahimahullah meriwayatkan dalam Mushannafnya, dari al-Aswad bin Qais, dari bapaknya, ia berkata: Umar pernah melihat seseorang yang membawa perlengkapan safar. Lalu ada seseorang yang berkata: hari ini adalah hari Jum’at, kalau bukan karena itu pasti aku sudah keluar bersafar. Kemudian Umar menyahut:

إن الجمعة لا تحبس مسافرا

“Sesungguhnya hari Jum’at tidak menghalangi musafir (melakukan safar,-pent),“ (HR. al-Baihaqi)

Dari Shalih bin Kaisan, Abu Ubaidah keluar dalam sebagian safar pada hari Jumat dan beliau tidak menunggu shalat Jum’at. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Ibnu Qudamah berkata: yang paling benar adalah bolehnya secara mutlak, karena kondisi asalnya terbebas dari Jum’at, potensi wajibnya jum’atan atas dirinya tidak menghalanginya sebagaimana sebelum datang harinya.

Al-Syaukani berkata: Para ulama berbeda penapat tentang bolehnya bersafar pada hari Jum’at sejak terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari dalam 5 pendapat:




Pertama, boleh. Ini pendapat al-Iraqi dan mayoritas ulama. Dari kalangan sahabat ada Umar bin al-hathab, al-Zubair bin al-‘Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarah, dan Ibnu Umar. Dari kalangan Tabi’in ada al-Hasan dan Ibnu Sirin, dan al-Zuhri. Sedangkan dari kalangan para imam ada Abu Hanifah, Malik dan satu riwayat yang masyhur darinya, al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal dalam satu riwayat yang masyhur darinya, Qaul qadim (pendapat lama) imam al-Syafi’i. Ibnu Qudamah menyebtukannya dari pendapat mayoritas ahli ilmu. Kemudian beliau menyebutkan pendapat yang lainnya.

Adapun saat sudah masuk waktu Jum’at dengan dikumandangkannya adzan kedua (adzan saat imam naik mimbar) maka ia wajib mendatangi shalat Jum’at selama dia masih di tempat tinggalnya (muqim), ia tidak boleh berangkat safar saat itu.

Ringkasnya: Jika perjalanan safar dimulai menjelang Jum’atan, tepatnya setelah tergelincirnya matahari atau ketika adzan Jumat sudah dikumandangkan, maka melakukan safar saat itu hukumnya haram. Ia harus ikut shalat Jum’at di tempat tinggalnya itu. Ini yang pertama.

Kedua, berangkat safar dimulai sebelum masuk waktu Jum’atan. Menurut pendapat lebih kuat, dibolehkan. Hukum asal safar adalah mubah, sementara tidak ada dalil shahih yang menunjukkan adanya larangan untuk melakukan safar di hari tertentu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

sumber: voa-islam.com

Saturday, September 6, 2014

Dialog Abu Sofyan dengan Kaisar Romawi

BAZZAR telah memberitakan dari Dihyah Al-Kalbi ra. katanya: Aku telah diutus oleh Rasulullah SAW dengan membawa sepucuk surat kepada Kaisar, Pembesar Romawi. Bila aku tiba di negerinya, aku terus mendatanginya, lalu aku serahkan surat itu kepadanya, sedang di sampingnya keponakannya yang berkulit merah, dan berambut lurus. Dia pun membaca surat itu yang berbunyi (Nas surat menyurat itu tersebut di dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:83). “Dari Muhammad Utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi.”

Mendengar bunyi surat itu, Pembesar Romawi mulai marah, lalu menyanggah: “Surat ini tidak boleh dibaca sekarang!” dia menyeringai.

“Kenapa?” tanya Kaisar.

“Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Rom, bukan Maharaja Rom!”.

“Tidak,” sambut Kaisar, “biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya.”

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai, dan setelah semua pengiring-pengiring Kaisar keluar dari majlisnya, aku pun dipanggil untuk masuk.

Bersamaan dengan itu dipanggilkan Uskup yang mengetahui seluk-beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu Uskup itu, dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya. “Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita Isa sendiri telah memberitahukan kita lama dulu!” jawab Uskup itu kepada Kaisar.

“Apa pendapatmu yang harus aku buat?” tanya Kaisar kepada Uskup.

“Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan akan mengikut ajarannya”, jawab Uskup dengan jujur.

“Tetapi aku jadi serba salah”, kata Kaisar, “Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!”

Kami pun keluar meninggalkan tempat itu. Dan kebetulan sekali, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Rom. Abu Sufyan dipanggil oleh Kaisar ke istananya dan ditanyakan tentang diri Muhammad SAW itu.

“Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu?” tanya Kaisar.

“Dia seorang anak muda”, jawab Abu Sufyan.



“Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakat kamu, dia mulia?”.

“Tentang kedudukannya dan keturunannya, memang tiada siapa yang melebihi kedudukan dan keturunannya!” jawab Abu Sufyan jujur.

“Ini tentulah tanda-tandanya kenabian.” Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang yang di sampingnya.

“Bagaimana bicaranya, adakah dia selalu berkata benar?”

“Benar”, jawab Abu Sufyan. “Dia memang tidak pemah berkata dusta”.

“Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!” Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. “Baiklah”, kata Kaisar lagi. “Orang yang rnengikutnya dari rakyatmu itu, adakah dia meninggalkan agamanya, lalu kembali semula kepadamu?”

“Tidak”, jawab Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!” kata Kaisar pula. “Adakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?”

“Ada!” jawab Abu Sufyan.

“Siapa yang selalu menang?”

“Kadang-kadang dia mengalahkan kita, dan kadang-kadang kita mengalahkannya”, jelas Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!” kata Kaisar Romawi itu.

Berkata Dihyah Al-Kalbi ra. seterusnya: Maka aku pun dipanggil oleh Kaisar Romawi itu, seraya dia berkata kepadaku: “Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi”, dia menunjukkan muka yang sungguh benar dalam kata-katanya. “Tetapi apa daya”, katanya lagi, “aku tak dapat buat apa-apa, kerana aku tidak bersedia ditumbangkan dari kerajaanku!” Kata Dihyah Al-Kalbi ra. yang menghayati semua peristiwa ini.

sumber:
islampos.com

Friday, September 5, 2014

5 Dalil Tentang Keutamaan 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

SEGALA puji bagi Allah سبحانه وتعلى, salam dan salawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta shahabat-shahabat beliau.

Dalil tentang keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah :
1. Firman Allah سبحانه وتعلى
وَالْفَجْر وَلَيَالٍ عَشْر الفجر

“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah سبحانه وتعلى atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad 1:56)

2. Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

3. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil لا إله إلا الله, Takbir الله أكبر dan Tahmid الحمد لله



4. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath Radhiyallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلمbersabda : ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)” (HSR. Ibnu Hibban)

5. Jika seseorang bertanya :”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)

sumber:
islampos.com

4 Wanita yang Pasti Masuk Surga

Sejarah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka.

Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.

1. Khadijah binti Khuwailid

Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath-thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.

Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib. Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”

Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama.

Fatimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, dan suka bersyukur.







3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.




4. Asiyah binti Muzahim


Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya.

Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata: “Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan.”

Semoga kita terus berusaha memperbaiki diri agar menjadi wanita-wanita yang kelak dipertemuka dengan empat wanita hebat penghuni surga ini. Selalu jaga hati-hati kita agar tak terjerumus ke dalam cinta dunia.

sumber: islampos.com

Monday, September 1, 2014

10 Macam Shalat yang Tidak akan Diterima Allah SWT

RASULULLAH SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima hal; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat….”
(HR Bukhâri dan Muslim).

Seorang Muslim tentu sudah paham betul bahwa sholat merupakan tiang dari dien ini. Oleh karena itu, ketika muadzin mengumandangkan adzan, kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah-rumah Allâh Ta’ala, mengambil air wudhu, kemudian berbaris rapi di belakang imam shalat mereka. Mulailah kaum muslimin tenggelam dalam dialog dengan Allâh Ta’ala dan begitu khusyu’ menikmati shalat sampai imam mengucapkan salam. Dan setelah usai, masing-masing kembali pada aktifitasnya.


Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara sholat, maka sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara sholat, maka sesungguhnya sholat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim).




Kemudian Rasulullah saw juga bersabda bahwa: “10 orang sholatnya tidak diterima oleh Allah swt, di antaranya:

1. Orang lelaki yang sholat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2. Orang lelaki yang mengerjakan sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

4. Orang lelaki yang melarikan diri.

5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (taubat).

6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.

7. Orang perempuan yang mengerjakan sholat tanpa memakai tudung.

8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.

9. Orang-orang yang suka makan riba’.

10. Orang yang sholatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.”

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah swt dan jauh dari Allah.” Hassan r. a berkata : “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”
[sa/islampos/berbagaisumber]

sumber: Islam Pos
editor: -