Sore itu, warung saya kedatangan seorang bapak yang sedang batuk pilek. Sambil menunggu teh hangatnya, ia meminum obat sirup dari botol kecil yang dibawanya dari apotek.
"Alhamdulillah, Mas. Untung ada obat modern. Coba bayangkan kalau kita hidup di zaman dulu, pasti cuma bisa minum jamu atau doa-doa saja," candanya sambil terkekeh.
 |
| "Saat Eropa masih dalam kegelapan, Baghdad dan Cordoba sudah menerangi dunia dengan ilmu kedokteran. ๐⚗️" |
Saya tersenyum, lalu berkata pelan: "Pak, obat yang Bapak minum itu, resepnya, botol kacanya, bahkan konsep apotek tempat Bapak membelinya... semua itu warisan dari para dokter Muslim yang hidup 1000 tahun yang lalu, lho."
Bapak itu terdiam, matanya membelalak tidak percaya. "Masa sih, Mas?"
Malam ini, mari kita berjalan menyusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika Baghdad, Cordoba, dan Kairo adalah pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia. Ke masa ketika cahaya Islam menerangi dunia yang sedang gelap gulita.
๐ฅ 1. Bimaristan: Rumah Sakit Pertama di Dunia
Coba bayangkan, Bos. Di saat Eropa masih menganggap orang sakit sebagai "kutukan" yang harus diasingkan, dunia Islam sudah membangun Bimaristan — rumah sakit modern pertama di dunia.
Bimaristan (dari bahasa Persia: bimar = orang sakit, stan = tempat) pertama kali dibangun di Baghdad pada abad ke-8 Masehi atas perintah Khalifah Harun ar-Rasyid. Tapi yang paling legendaris adalah Bimaristan Al-Manshuri di Kairo (1283 M), yang konon bisa menampung 8.000 pasien sekaligus!
Apa yang membuat Bimaristan begitu revolusioner?
- Menerima semua pasien tanpa memandang agama, ras, atau status sosial.
- Gratis — dibiayai oleh waqaf (wakaf) dari para dermawan.
- Punya bangsal terpisah untuk pria dan wanita, serta bangsal khusus untuk penyakit menular, bedah, dan bahkan gangguan jiwa.
- Pasien gangguan jiwa tidak dirantai seperti di Eropa pada masa yang sama. Mereka dirawat dengan musik, air mancur, taman, dan terapi wangi-wangian — sebuah pendekatan yang baru "ditemukan kembali" oleh psikiatri modern di abad ke-20!
Di Bimaristan pula lahir konsep rekam medis, masa magang dokter, dan ujian lisensi praktik — hal-hal yang kita anggap "standar modern" hari ini.
๐ 2. Ibnu Sina: "Pangeran Para Dokter" yang Mengajar Eropa Selama 600 Tahun
Kalau ada satu nama yang harus disebut ketika bicara soal kedokteran Islam, itu adalah Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina (980-1037 M), atau yang di Barat dikenal sebagai Avicenna.
Bayangkan, Bos: di usia 18 tahun, Ibnu Sina sudah menguasai seluruh ilmu kedokteran zamannya. Di usia 21, ia menulis "Al-Qanun fi al-Tibb" (The Canon of Medicine) — sebuah ensiklopedia medis setebal jutaan kata yang merangkum seluruh pengetahuan kedokteran Yunani, Persia, India, dan Arab.
Yang mencengangkan: buku ini menjadi buku teks wajib di universitas-universitas Eropa (seperti Leuven dan Montpellier) selama lebih dari 600 tahun! Hingga abad ke-17, tidak ada dokter Eropa yang lulus tanpa membaca Ibnu Sina.
Beberapa penemuannya yang masih dipakai sampai hari ini:
- Konsep karantina untuk mencegah penyebaran penyakit menular.
- Pentingnya diet dan pola makan dalam penyembuhan.
- Pengenalan metode ilmiah dalam pengujian obat (cikal bakal clinical trial modern).
- Deskripsi rinci tentang lebih dari 760 jenis obat.
๐งช 3. Al-Razi: Dokter yang Berani Beda dari Zamannya
Sementara Ibnu Sina adalah filsuf-dokter yang agung, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (854-925 M) adalah klinikus sejati — dokter yang lebih suka berada di sisi ranjang pasien daripada di ruang kuliah.
Di Eropa ia dikenal sebagai Rhazes. Kontribusinya sangat banyak:
- Pembeda pertama antara Cacar (Smallpox) dan Campak (Measles). Sebelum Al-Razi, kedua penyakit ini dianggap sama. Buku kecilnya "Kitab fi al-Jadari wa al-Hasbah" menjadi rujukan dunia selama berabad-abad.
- Bapak Pediatri Modern. Ia menulis buku khusus tentang penyakit anak — sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
- Dokter yang rendah hati. Ketika diminta memilih lokasi untuk membangun Bimaristan baru di Baghdad, ia menggantung potongan daging mentah di berbagai penjuru kota. Tempat di mana dagingnya paling lambat membusuk, itulah yang ia pilih sebagai lokasi rumah sakit — karena udaranya paling bersih.
- Penentang takhayul. Di zamannya masih banyak orang percaya penyakit disebabkan oleh roh jahat. Al-Razi dengan tegas mengatakan: "Penyakit punya sebab alamiah. Temukan sebabnya, maka temukan obatnya."
๐ช 4. Al-Zahrawi: Bapak Ilmu Bedah Modern
Kalau Bos pernah dioperasi, berterima kasihlah pada Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas al-Zahrawi (936-1013 M) dari Andalusia (Spanyol Islam). Di Barat ia dikenal sebagai Abulcasis.
Selama 50 tahun, ia praktik sebagai ahli bedah di Cordoba, dan menulis kitab legendaris "At-Tasrif" — sebuah ensiklopedia medis 30 jilid. Jilid terakhirnya, yang khusus membahas bedah, berisi ilustrasi lebih dari 200 alat bedah yang banyak di antaranya ia ciptakan sendiri!
Banyak alat tersebut masih dipakai dalam bentuk modern hingga hari ini:
- Forceps (penjepit) untuk persalinan.
- Skalpel (pisau bedah) dengan berbagai bentuk.
- Catgut — benang jahit dari usus hewan yang bisa larut sendiri di dalam tubuh, masih dipakai untuk menjahit luka operasi dalam.
- Teknik ligasi (mengikat pembuluh darah) untuk menghentikan pendarahan — 600 tahun sebelum Ambroise Parรฉ "menemukannya kembali" di Eropa!
Al-Zahrawi juga dokter pertama yang memisahkan bedah sebagai disiplin ilmu tersendiri, bukan sekadar "tukang cukur yang juga mencabut gigi" seperti di Eropa pada masa itu.
๐ซ 5. Ibnu al-Nafis: Sang Penemu Peredaran Darah Paru
Ini adalah salah satu "pencurian sejarah" terbesar yang jarang dibicarakan. Selama berabad-abad, dunia Barat memuji William Harvey (1628 M) sebagai penemu sistem peredaran darah.
Padahal, 300 tahun sebelum Harvey, seorang dokter Damaskus bernama Ala al-Din Abu al-Hasan Ali bin Abi al-Hazm al-Qarasyi, atau lebih dikenal sebagai Ibnu al-Nafis (1213-1288 M), sudah menuliskan deskripsi akurat tentang peredaran darah paru (pulmonary circulation) dalam bukunya "Syarh Tasyrih al-Qanun".
Ibnu al-Nafis dengan tegas mengoreksi kesalahan Galenus (dokter Yunani kuno) yang selama 1.300 tahun dianggap "tidak bisa salah". Ia menulis:
"Darah dari bilik kanan jantung harus mengalir ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, di sana ia bercampur dengan udara, lalu kembali ke bilik kiri jantung melalui vena pulmonalis."
Karya ini baru "ditemukan kembali" oleh seorang sejarawan Mesir bernama Muhyiddin al-Tatawi pada tahun 1924 — dan dunia kedokteran pun terkejut. Ibnu al-Nafis juga yang pertama kali menyatakan bahwa dinding jantung tidak tembus, sesuatu yang baru dikonfirmasi sains modern berabad-abad kemudian.
⚗️ Warisan Lain yang Sering Kita Lupakan
Selain tokoh-tokoh di atas, dunia Islam juga memberi kita:
- Apotek (Saydalah): Apotek pertama di dunia didirikan di Baghdad pada abad ke-8. Para apoteker Muslim harus lulus ujian negara sebelum boleh praktik.
- Farmakologi sebagai ilmu: Mereka yang pertama kali mengklasifikasikan obat berdasarkan khasiat, dosis, dan efek sampingnya.
- Etika Kedokteran: Ishaq bin Ali ar-Ruhawi menulis "Adab al-Tabib" (Etika Dokter) di abad ke-9 — buku etika kedokteran pertama di dunia, ratusan tahun sebelum Sumpah Hipokrates "dihidupkan kembali" di Eropa.
- Optalmologi: Ali bin Isa al-Kahhal menulis "Tazkirat al-Kahhalin", buku teks penyakit mata paling komprehensif di zamannya.
๐ญ Renungan Penjaga Warung: Ilmu Tanpa Iman itu Buta, Iman Tanpa Ilmu itu Lumpuh
Sebagai penjaga warung yang sering mendengarkan obrolan orang dari segala lapisan, saya sering merenung: apa rahasia di balik kehebatan para ilmuwan Muslim ini?
Apakah mereka sekadar "orang pintar" yang kebetulan lahir di tempat dan waktu yang tepat?
Tidak, Bos. Rahasianya jauh lebih dalam. Mereka semua memulai ilmu mereka dengan wudhu dan doa. Mereka tidak melihat pemisahan antara "ilmu dunia" dan "ilmu akhirat". Bagi mereka, meneliti anatomi tubuh manusia adalah ibadah — karena semakin mereka memahami ciptaan-Nya, semakin mereka mengagumi Sang Pencipta.
Ibnu Sina shalat malam sebelum menulis. Al-Razi menolak bayaran dari pasien miskin. Al-Zahrawi membagikan ilmu bedahnya gratis kepada siapa saja yang mau belajar. Ibnu al-Nafis menyumbangkan seluruh perpustakaan pribadinya dan rumah sakit yang ia dirikan untuk waqaf umat.
Mereka membuktikan satu prinsip yang hari ini sering kita lupakan: ilmu tanpa iman itu buta, dan iman tanpa ilmu itu lumpuh.
Ilmuwan modern mungkin bisa membuat obat yang lebih canggih, MRI yang lebih canggih, atau operasi robotik yang lebih presisi. Tapi tanpa etika, kerendahan hati, dan rasa takut kepada Sang Pemilik Ilmu, semua kemajuan itu bisa berbalik menjadi senjata yang menghancurkan manusia itu sendiri.
Maka, Bos, setiap kali kita minum obat, setiap kali kita dioperasi, setiap kali kita berobat ke rumah sakit, mari kita ingat para pelopor Muslim ini. Bukan untuk sombong atau merasa lebih unggul dari peradaban lain, tapi untuk bersyukur bahwa Allah pernah memilih umat ini sebagai pembawa cahaya bagi dunia.
Dan mungkin, bagi para pelajar dan mahasiswa kedokteran Muslim yang membaca tulisan ini: ingatlah bahwa kalian adalah pewaris Ibnu Sina, Al-Razi, dan Al-Zahrawi. Jangan puas hanya jadi peniru. Jadilah penerus yang kembali menyalakan pelita itu — kali ini untuk menerangi dunia yang sedang gelap di abad ke-21. ๐๐ค
Kontribusi peradabam islam dalam dunia kedokteran sungguh sangat tidak ternilai.Pada keemasannya, peradaban Islam telah melahirkan sederet dokter terkemuka yang telah meletakkan dasar-dasar kedokteran modern.Salah satu peninggalan terpenting dari kedokteran Islam adalah terapi kedokteran.Para dokter muslim melalui kitab atau risalah yang ditulis telah memperkenalkan aneka terapi untuk mengobati beragam penyakit.Para dokter muslim di era kejayaan mencoba membuktikan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa semua penyakit pasti ada obatnya.
Sayangnya sekarang dunia islam kalah sama umat lain dalam hal dunia kedokteran ini ya sob..
BalasHapusbtw.. linknya dah saya pasang sob.. makasih
Betul sekali sob.. dulu menurut sejarah bahwa kemajuan dunia Islam mencakup banyak hal.. dan sekarang banyak diantaranya mereka yang meniru malah lebih unggul daam beberapa hal ya..
BalasHapuswah bener banget sobat,,
BalasHapusSAW
kayaknya ada yang punya blog abru neh,,
BalasHapusmantab gan,,
blognya simpel present..
wkwkwk
apaan tuh,,
pokoknya Pertamax deh,,
maju terus kawan
assalamualaikum
BalasHapussusah juga kondisini islam yang sekarang
sobat apa di zaman nabi muhammad ada penyakit kayak AIDS ya....??? truz kira2 apa ada obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut...???
BalasHapussob udah di pasang linknya di blogq
atas kesalahannya sendiri sekarang umat islam mengalami masa kemunduran bahkan sangat sulit untuk bangkit hal ini disebabkan oleh rayuan dunia sehingga umat islam saling membunuh dan berperang memperebutkan dunia bahkan sudah tidak ada rasa persaudaraan lagi ketika saudara muslim disuatu tempat sedang dibantai saudra muslim lainnya membiarkannya ( bahkan saudara mulim bersekutu dengan bangsa kafir)
BalasHapusnice info sebenernya Islam dari jaman dahulu lebih maju daripada umat lainya..
BalasHapusBener tuh sob,,, namun banyak ilmu kita yang dicuri sama orang-orang barat....
BalasHapussObat lInk kamu sUdah saya pasang..
BalasHapussIlahkan dIcek sObat..
serinG2 mAmpir ya kAwanD....
coba kalo sekarang yang menguasai dunia pengobatan, pasti baiaya untuk berobat g mahal....
BalasHapusmemang sobat..
BalasHapusini merupakan titik balik yang harus kita antisipasi bersama agar kedepannya, umat ISLAM khususnya jauh lebih baik lagi baik dalam ilmu pengetahuan ataupun dalam bidang lainnya
Tambah wawasan tentang Islam nih....
BalasHapussemoga kejayaan pengobatan islam bisa bangkit lagi
BalasHapusbetul banget.. Sekarang aja HIV AIDS aja ada obatnya..
BalasHapussaya kira ada cara dan prosesnya.
BalasHapus