Sore itu, warung saya hampir saja menjadi medan perang kecil.
Dua pelanggan — keduanya muslim, keduanya rajin shalat — terlibat perdebatan yang suaranya makin lama makin tinggi. Topiknya, seperti yang sering saya dengar di warung-warung seluruh Indonesia: soal bid'ah. Yang satu menyebut sebuah amalan masyarakat sebagai "sesat dan tempatnya di neraka". Yang lain tersinggung, menyebut lawannya "sombong dan merasa paling benar".
Saya datang membawa dua gelas teh, meletakkannya pelan di antara mereka, dan berkata: "Bapak-bapak, sebelum lanjut... boleh saya tanya satu hal? Kalian berdua tadi sama-sama mengutip hadis yang sama: 'kullu bid'atin dhalalah'. Tapi kenapa dari hadis yang sama, keluar dua sikap yang saling melukai?"
 |
| "Hadis yang sama, dibaca dua orang yang berbeda. Yang satu menjadikannya cermin, yang satu menjadikannya senter untuk menyorot orang lain. " |
Hening. Teh diseruput. Dan sore itu saya belajar satu hal: masalahnya bukan pada hadisnya — hadis itu cahaya. Masalahnya pada cara kita memegang cahaya itu: sebagai cermin untuk diri sendiri, atau sebagai senter untuk menyorot wajah orang lain.
Malam ini, mari kita bedah hadis ini secara utuh — teksnya, makna katanya, cara para ulama memahaminya, dan adab yang seharusnya menyertai kita saat membacanya.
📜 1. Teks Hadis yang Utuh (Jangan Dipotong!)
Hadis yang sering dikutip itu sebenarnya adalah penggalan dari khutbah Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim)
Dan dalam riwayat an-Nasa'i (dari jalur yang sama, dinilai sahih oleh para ahli hadis), terdapat tambahan:
وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
"...dan setiap kesesatan tempatnya di neraka."
Perhatikan, Bos: hadis ini diawali dengan "sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad". Ini penting! Artinya, Nabi ﷺ sedang meletakkan timbangan: segala perkara harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan sunnah beliau — bukan dengan selera, bukan dengan perasaan, dan bukan dengan kepentingan kelompok.
🔤 2. Apa Itu "Bid'ah" Secara Bahasa?
Sebelum berdebat, para ulama selalu memulai dari kata. Bid'ah secara bahasa berarti: sesuatu yang baru, yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya.
Dan di sinilah kunci seluruh perbedaan itu, Bos. Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat shalat tarawih berjamaah yang ia kumpulkan kembali, beliau berkata:
"Ni'matul bid'ah hadzihi" — "Sebaik-baik bid'ah adalah ini." (HR. Bukhari)
Apakah Umar sedang menentang Nabi yang bersabda "setiap bid'ah sesat"? Tidak mungkin. Sahabat yang dijamin masuk surga tidak mungkin menentang sabda Nabi. Maka para ulama menyimpulkan: Umar menggunakan kata "bid'ah" dalam arti bahasa (sesuatu yang baru, tanpa contoh sebelumnya dalam bentuk itu), bukan dalam arti syariat yang dimaksud hadis.
Dari sinilah lahir dua cara pandang besar yang hidup hingga hari ini.
⚖️ 3. Dua Cara Pandang Ulama — dan Titik Temu yang Jarang Disebut
🌿 Cara Pandang Pertama: Bid'ah Bisa Dibagi (Imam Syafi'i, an-Nawawi, Ibnu Hajar)
Imam Syafi'i rahimahullah dan para pengikutnya (termasuk Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-'Asqalani) membagi bid'ah berdasarkan apakah ia selaras atau bertentangan dengan prinsip syariat:
- Jika perkara baru itu bertentangan dengan Al-Qur'an, sunnah, atau ijmak — ia bid'ah dhalalah (sesat), dan inilah yang dimaksud hadis.
- Jika perkara baru itu selaras dengan prinsip-prinsip syariat — ia terpuji (seperti tarawih berjamaah yang dipuji Umar, atau pembukuan mushaf Al-Qur'an di zaman Abu Bakar yang tidak ada contohnya di zaman Nabi).
Imam an-Nawawi menjelaskan: sabda Nabi "kullu bid'atin dhalalah" adalah pernyataan umum yang dimaksudkan secara khusus — yaitu untuk bid'ah yang batil dan bertentangan dengan syariat.
🛡️ Cara Pandang Kedua: Setiap Bid'ah (dalam Agama) Adalah Sesat (ash-Shatibi, Ibnu Taimiyah, dan para muhaddits)
Kelompok ulama lain — seperti Imam ash-Shatibi dalam al-I'tisham — memahami hadis ini apa adanya secara umum: setiap perkara baru dalam urusan agama/ibadah yang tidak ada tuntunannya adalah sesat.
Tapi perhatikan baik-baik, Bos: mereka TIDAK menganggap teknologi, mobil, mikrofon, atau gedung bertingkat sebagai "bid'ah sesat". Bagi mereka, perkara duniawi hukum asalnya boleh. Dan ketika mereka mengomentari pembagian Imam Syafi'i, mereka menjelaskan: yang dimaksud Imam Syafi'i dengan "bid'ah hasanah" sebenarnya bukan bid'ah dalam arti syariat, melainkan bid'ah dalam arti bahasa semata.
🤝 Titik Temunya
Dan di sinilah letak keindahan yang jarang disampaikan di mimbar-mimbar yang panas: kedua kelompok ini sebenarnya sepakat dalam substansi!
- Keduanya sepakat: ibadah baru yang bertentangan dengan syariat = sesat.
- Keduanya sepakat: perkara dunia (teknologi, adat yang tidak bertentangan syariat) = bukan bid'ah yang terlarang.
- Yang berbeda hanyalah cara mendefinisikan kata "bid'ah" — perbedaan istilah (khilaf lafzhi), bukan perbedaan dalam mengharamkan yang batil.
Sayangnya, yang sampai ke warung-warung dan kolom komentar biasanya bukan titik temu ini — melainkan versi yang paling marah dari kedua sisi. 😔
🚫 4. Yang BUKAN Bid'ah (Agar Kita Tidak Paranoid)
Supaya adil, hadis ini tidak boleh dipakai untuk mengharamkan segala hal baru. Para ulama dari semua kelompok sepakat bahwa yang berikut bukan bid'ah yang terlarang:
- Perkara dunia dan teknologi — kendaraan, mikrofon, aplikasi, gedung, pakaian. "Kalian lebih tahu urusan dunia kalian," sabda Nabi ﷺ dalam kisah kurma yang terkenal.
- Amalan yang punya landasan umum dalam syariat — misalnya mengumpulkan hadits, membangun madrasah, atau mencetak mushaf: bentuknya baru, tapi ia melayani perintah syariat yang sudah ada.
- Adat dan budaya yang tidak bertentangan dengan tauhid dan syariat — selama tidak diyakini sebagai ibadah mahdhah dan tidak mengandung kemungkaran.
Maka sebelum menunjuk sesuatu dan berteriak "bid'ah!", tanyakan dulu dengan jujur: apakah ini perkara ibadah yang diada-adakan dan bertentangan dengan tuntunan? Ataukah perkara dunia/adat yang hukum asalnya boleh?
🕊️ 5. Adab: Hadis Ini Cermin, Bukan Senter
Dan sampailah kita pada bagian yang paling penting — bagian yang membuat dua pelanggan saya sore itu akhirnya saling menuangkan teh.
Para salaf kita, yang hafal hadis ini di luar kepala, adalah orang-orang yang paling tidak sibuk menyesatkan sesama muslim. Imam-imam besar berbeda pendapat dalam ribuan masalah furu' (cabang), namun mereka tetap saling memuliakan. Ada kaidah indah yang mereka wariskan:
"Pendapat kami benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar."
Maka adab membaca hadis ini adalah:
- Jadikan ia cermin untuk ibadahmu sendiri. Tanyakan: "Adakah dalam ibadahku yang tidak ada tuntunannya? Adakah yang aku lakukan karena ikut-ikukan tanpa ilmu?" — itu baru cara memegang hadis yang benar.
- Jangan jadikan ia senter untuk menyorot wajah orang lain. Apalagi sampai memutuskan ukhuwah, memboikot tetangga, atau memecah keluarga hanya karena perbedaan ijtihad yang sudah diperdebatkan ulama selama 12 abad.
- Serahkan yang rumit kepada ahlinya. Kalau Bos ragu tentang sebuah amalan, tanyakan kepada ulama yang Bos percaya dengan adab — bukan kepada kolom komentar media sosial.
- Ingat urutan Nabi dalam hadis yang sama: sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah. Maka sebelum sibuk membahas bid'ah orang lain, pastikan kita sudah membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an — karena ironisnya, banyak orang yang hafal hadis bid'ah tapi mushafnya berdebu.
💭 Renungan Penjaga Warung: Teh yang Sama, Gelas yang Berbeda
Dua pelanggan saya sore itu, pada akhirnya, minum dari teko yang sama. Yang berbeda hanya gelas mereka.
Begitulah seharusnya kita memandang perbedaan ini, Bos. Kita semua — yang menyebut dirinya salafi, tradisionalis, NU, Muhammadiyah, atau yang tidak mau dilabeli apa-apa — minum dari sumber yang sama: Al-Qur'an yang satu, Nabi yang satu, kiblat yang satu.
Hadis "kullu bid'atin dhalalah" diturunkan Nabi ﷺ bukan untuk membuat umatnya saling mengkafirkan di warung-warung. Ia diturunkan sebagai pagar — agar agama ini tetap murni, tidak dicampuradukkan dengan hawa nafsu dan tradisi yang merusak tauhid. Pagar itu untuk melindungi rumah, bukan untuk memecah-belah penghuninya.
Maka malam ini, mari kita pegang hadis ini dengan cara yang diajarkan para guru: tegas dalam memegang prinsip untuk diri sendiri, lembut dalam menyikapi perbedaan dengan sesama.
Karena pada hari kiamat nanti, yang ditimbang bukan seberapa sering kita memenangkan debat bid'ah — tapi seberapa lurus ibadah kita, dan seberapa utuh hati kami menjaga ukhuwah. 🌙
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ulama dan tidak berfatwa. Tulisan ini hanyalah rangkuman ringkas dari penjelasan para ulama besar (Imam Syafi'i, an-Nawawi, Ibnu Hajar, ash-Shatibi, dan lainnya) untuk tujuan adab dan memperluas wawasan. Untuk hukum amalan tertentu, silakan bertanya kepada guru dan ulama yang Anda percayai. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL
Belum ada tanggapan untuk ""Setiap Bid'ah Adalah Kesesatan" — Memahami Hadis Nabi dengan Kepala Dingin dan Hati yang Lapang"
Posting Komentar