Surabaya, 3 Agustus 2026
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana para orang tua atau kakek-nenek kita di Jawa menjalani kehidupan sehari-hari?
Ada keanggunan yang tenang dalam cara mereka beribadah, bertutur kata, dan memperlakukan sesama. Tanpa sadar, mereka telah mempraktikkan Uswah Hasanah (teladan yang baik) dengan cara yang sangat khas dan membumi.
 |
| "Tradisi sungkem dan sikap andhap asor (rendah hati) adalah wujud nyata uswah hasanah yang menyatu indah dengan ajaran Islam. Gambar ini merepresentasikan keharmonisan antara nilai keislaman dan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-hari." |
Sejarah mencatat bagaimana para Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa bukan dengan paksaan, melainkan melalui keteladanan dan pendekatan budaya. Hasilnya? Terciptalah harmoni indah antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang masih bisa kita warisi hingga hari ini.
Mari kita kupas 4 nilai luhur "Uswah ala Wong Jawa" yang sangat relevan untuk diterapkan di era modern:
1. Tepo Seliro: Cerminan Akhlak dan Empati
Dalam budaya Jawa, ada pepatah "Urip iku urup" (Hidup itu harus memberi cahaya/bermanfaat) dan konsep Tepo Seliro (tenggang rasa).
Ini adalah wujud nyata dari akhlak mulia dalam Islam. Seseorang yang memiliki tepo seliro tidak akan menyakiti perasaan orang lain, selalu berpikir sebelum bertindak, dan peka terhadap kondisi sekitar.
Penerapan Modern:
Di era media sosial yang penuh dengan ujaran kebencian, menjadi pribadi yang tepo seliro (memikirkan perasaan orang lain sebelum berkomentar) adalah bentuk keteladanan yang sangat dibutuhkan.
2. Sungkem: Wujud Nyata Birrul Walidain
Jika di budaya lain menghormati orang tua cukup dengan ucapan, masyarakat Jawa memiliki tradisi fisik yang sangat menyentuh: Sungkem.
Menundukkan kepala dan mencium tangan orang tua (biasanya saat hari raya atau sebelum menikah) adalah manifestasi langsung dari Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua).
Penerapan Modern:
Meski tidak harus selalu secara fisik, esensi sungkem mengajarkan kita untuk selalu merendahkan hati, mengakui jasa orang tua, dan tidak pernah meninggikan suara kepada mereka.
 |
"Aktivitas gotong royong dan menjaga kelestarian alam adalah implementasi nyata dari filosofi Jawa 'Memayu Hayuning Bawana' yang sejalan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi." |
3. Memayu Hayuning Bawana: Tanggung Jawab sebagai Khalifah
Filosofi Jawa yang sangat dalam ini berarti "Memperindah keindahan dunia" atau menjaga kelestarian alam.
Dalam Islam, ini selaras sempurna dengan konsep Khalifah fil Ardh (pemimpin/pengelola di muka bumi). Manusia dititipkan bumi untuk dirawat, bukan dieksploitasi.
Penerapan Modern:
Gotong royong membersihkan selokan desa, tidak membuang sampah sembarangan, dan menanam pohon adalah bentuk Uswah bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman.
4. Srawung: Mempererat Tali Silaturahmi
Orang Jawa sangat menjunjung tinggi Srawung (bergaul/bersosialisasi) dengan siapa saja tanpa memandang status. Dari konsep ini lahir budaya sambatan (kerja bakti) dan kenduren (doa bersama).
Ini adalah implementasi nyata dari Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan). Keteladanan di sini terlihat dari bagaimana seseorang bisa diterima di lingkungan mana pun karena keramahannya.
Menjadi Teladan di Zaman Sekarang
Menjadi Muslim yang taat dan sekaligus menghargai kearifan lokal bukanlah hal yang bertentangan. Justru, keduanya saling melengkapi untuk membentuk karakter yang utuh.
Uswah Hasanah ala Wong Jawa mengajarkan kita bahwa keteladanan tidak harus selalu dengan kata-kata besar. Cukup dengan senyum yang tulus, tutur kata yang lembut (andhap asor), dan tindakan yang bermanfaat bagi sekitar.
Mari kita lestarikan warisan luhur ini. Jadikan diri kita teladan yang tidak hanya baik di mata Tuhan, tapi juga membawa kedamaian bagi sesama dan lingkungan. 🌿✨
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Uswah Hasanah ala Wong Jawa: Harmoni Indah Antara Ajaran Islam dan Kearifan Lokal"
Posting Komentar