Pada dasarnya manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya komunikasi antara yang satu dnegan yang lainnya. Terkadang pula untuk suatu keperluan, atau hanya sekedar berbasa-basi saja.
Kadang kala adab dalam bercakap-cakap ini diabaikan saja, sehingga tidak sedikit telah membuat kesal dan tersinggung lawan bicaranya.
Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan cara bercakap-cakap yang baik.
Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan agar percakapan kita menjadi berfaedah dan penuh hikmah.
Etika Bercakap-cakap.
1. Berbicara dengan santun.
Tak jarang ada seorang yang banyak berbicara mengenai segala hal tanpa ada faedahnya sama sekali, seolah hanya dialah yang paling tahu dan ahli dalam segala bidang.
Ia menganggap diamnya seseorang yang ada di depannya menandakan bahwa ia kagum dengan pembicaraannya, sehingga ia pun memperpanjangnya.
Dari Abu Tsa'labah al-Khusyani bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di kahirat adalah yang terbaikakhlaknya di antara kalian, dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah yang paling jelek akhlaknya, yang banyak bicara, yang sombong lagi suka mengejek orang."
(HR. Ahmad).
Dengan kata lain, bila ingin dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak, maka baguskanlah akhlak, jangan banyak bicara dan jangan sombong apalagi suka mengejek orang lain.
Sesungguhnya adab dan kesopanan menurut kebiasaan orang adalah dengan memberi kesempatan yang lain berbicara, karena mereka semua memiliki bagian untuk itu.
Kecuali bagi anak-anak kecil dengan orang tua, hendaknya mereka memlihara adab dengan tidak banyak berbicara kecuali sebagai petunjuk jawaban untuk lainnya.
(Ar-Riyadhah).
2. Tidak Memuji Diri Sendiri atau keluarga.
Islam melarang berbicara mengangkat diri sendiri hanya sekedar untuk suatu kebanggaan. Termasuk dalam hal ini adalah membicarakan kecerdasan anaknya, kekayaan, atau tentang kegesitan istrinya mengatur rumah tangga.
Pada dasarnya memuji diri sendiri adalah terlarang, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat An-Najm ayat 32.
Allah SWT berfirman,
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Artinya:
"(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
Memuji diri sendiri menurut An-Nawawi dibagi menjadi 2 macam:
Yang Tercela, yaitu ia menceritakannya untuk kebanggaan, menampakkan kelebihan dan tampil beda dengan yang lain.
Yang Terpuji, jika hal itu diceritakan untk suatu kemaslahatan agama seperti amar ma'ruf nahi munkar dan sebagainya.
3. Hati-hati ketika Bicara
Ketika berbicara berhati-hatilah agar tidak menyinggung perasaan orang yang diajak bicara.
Amr bin Al-Ash berkata,
"Ketergelinciran kaki adalah tulang yang bisa diluruskan, sedangkan ketergelinciran lisan tidak meninggalkan (orang yang hidup kecuali akan dibinasakan) dan membiarkan (orang mati kecuali pasti akan dihidupkan kembali).
(Bahjatul Majalis).
4. Tidak Terlalu Banyak Bertanya yang tidak Perlu.
Terlalu banyak bertanya yang tak perlu serta terlalucepat menjawab suatu pertanyaan juga merupakan hal yang harus direnungkan untuk dilaksanakan dalam adab bercakap-cakap.
Bukankah termasuk aib juga jika seseorang terlalu cepat menjawabsuatu pertanyaan sebelum yang bertanya tadi menyelesaikan peratanyaannya.
Umar bin Abdul Aziz berkata,
"ada dua perangai yang tidak akan menjauhkanmu dari kebodohannya, yaitu terlalu cepat berpaling dan menjawab.
(Uyunul Akhbar).
5. Tidak Melayani Pe,bicara Rendahan dan Pandir.
Dari Ibnu Abbas ra berkata,
"Janganlah engkau bertengkar dengan orang penyantun dan orang pandir, karena ornag penyantun akan membencimu dan orang pandir akan menyakitimu."
(Kitab Al-Uzlah).
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya:
Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
(Al-A'raf: 99).
6. Bicara Sesuai dengan Situasi dan Kondisi.
Tidaklah layak sama sekali jika seseorang bergurau di kala tema pembicaraan sangat serius atau berusaha membuat orang tertawa.
(kitab Ar-Riyadha an Nadhirah).
7. Ketahui jika Lawan Bicara Bosan.
Ibnu Mas'ud berkata,
"Ajaklah bicara orang selama ia menghadapkan diri kepadamu dengan pendengarannya dan memperhatikanmu dengan pandangannya. Jika engkau melihat mereka bosan, maka berhentilah bicara."
(Zahrul Adab).
8. Menghargai Pembicaraan Seseorang sekalipun lebih tahu.
Mu'adz bin Sa'ad Al-A'war berkata,
"Saya pernah duduk di samping Atha bin Abi Rabah, lalu ada seseorang yang yang menyampaikan suatu hadits. Atha pun marah dan berkata, Perangai apa ini. Sungguh saya mendengar hadits dari orang lain sedangkan saya lebih mengetahui tentang hadits tersebut, tetapi saya perhatikan kepada orang itu seolah-olah saya tidak tahu apa-apa."
(Raudhatul Uqola).
9. Tidak meninggalkan Teman duduknya hingga menyelesaikan pembicaraan.
10. Janagn terlalu cepat Memvonis.
11. Berusaha bercakap-cakap dengan anak-anak kecil.
Berguna untuk melatihnya berbicara, menambah pengalaman dan pengetahuan mereka, meguatkan akal serta menambah keberanian dan kepercayaan diri.
12. Tidak mengeraskan suara ketika berada di Majelis.
13. Hindari Membicarakn wanita dan makanan.
Dalam kitab Siyar A'lam an nubala bahwa Ahnaf bin Qais berwasiat,
"Jauhkanlah majelis kita dari membicarakan waita dan makanan. Saya tidak suka orang yang gemar menyifati kemaluan dan perutnya."
Uswah Islam Merupakan Cerita Suri Tauladan dari Sahabat Nabi Muhammad SAW Untuk dijadikan Pelajaran Buat Kita Semua
Sunday, February 12, 2012
Monday, February 6, 2012
Sopan Santun Menghadiri Majelis
Berikut ini dalil yang menyatakan tentang sopan santun dalam menghadiri suatu majelis.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujaadilah: 11).
Dari ayat tersebut, kita sebagai muslim haruslah mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh para pendakwah. Tak lupa dengan lapangnya hati, hati gembira dalam menghadiri majelis maka Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada orang tersebut di dunia dan di akhirat.
Sopan santun dalam menghadiri majelis adalah:
1. Niat.
2. Ikhlas dan gembira.
3. Mendengarkan apa yang disampaikan dalam majelis.
4. Tidak boleh bersenda gurau.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujaadilah: 11).
Dari ayat tersebut, kita sebagai muslim haruslah mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh para pendakwah. Tak lupa dengan lapangnya hati, hati gembira dalam menghadiri majelis maka Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada orang tersebut di dunia dan di akhirat.
Sopan santun dalam menghadiri majelis adalah:
1. Niat.
2. Ikhlas dan gembira.
3. Mendengarkan apa yang disampaikan dalam majelis.
4. Tidak boleh bersenda gurau.
Ketika Batal saat Shalat Berjamaah
Ada seorang muslim buang angin pada saat shalat berjamaah, tentu akan sangat kebingungan. HAruskah dia tetap duduk diam sampai shalat selesai ataukah langsung meninggalkan barisan jamaah kemudian mengambil air wudhu lagi.
Ketika seseorang melakukan shalat berjamaah serta pada posisi sebagai makmun, maka seluruh gerakan shalatnya haruslah mengikuti imam. Selain tidak boleh mendahului, juga tidak boleh tertinggal dari satu rukun yang terulang tiga kali berturut-turut.
Meninggalkan barisan.
Ketika sedang shalat berjamaah kemudian tiba-tiba buang angin, maka shalat yang dilakukan seorang makmum otomatis batal dengan sendirinya sehingga makmum harus menghentikan shalat yang dilakukan.
Saat itu juga dia harus meninggalkan tempat shalat dan membawa serta peralatan shalat yang dipakai, agar makmum lainnya dapat mengisi kekosongan tempat tersebut.
Setelah meninggalkan tempat jamaah, harus segera mengambil air wudhu untuk bersuci, sehingga jika memungkinkan, dia dapat kembali bergabung dalam shalat jamaah tersebut. Saat bergabung yang kedua ini, dia akan menjadi makmum masbuk.
Merasa Malu atau Ragu untuk Meninggalkan Tempat Shalat Jamaah.
Biasanya jamaah akan merasa ragu dan enggan untuk meninggalkan tempat karena takut melewati jamaah lainnya. Namun, hal ini harus tetap dilakukan. Agar tak terkesan menginjak jamaah lainnya, usahakan ketika mereka sedang duduk atau sujud agar memudahkan untuk mencari jalan keluar dari barisan.
Ketika seseorang melakukan shalat berjamaah serta pada posisi sebagai makmun, maka seluruh gerakan shalatnya haruslah mengikuti imam. Selain tidak boleh mendahului, juga tidak boleh tertinggal dari satu rukun yang terulang tiga kali berturut-turut.
Meninggalkan barisan.
Ketika sedang shalat berjamaah kemudian tiba-tiba buang angin, maka shalat yang dilakukan seorang makmum otomatis batal dengan sendirinya sehingga makmum harus menghentikan shalat yang dilakukan.
Saat itu juga dia harus meninggalkan tempat shalat dan membawa serta peralatan shalat yang dipakai, agar makmum lainnya dapat mengisi kekosongan tempat tersebut.
Setelah meninggalkan tempat jamaah, harus segera mengambil air wudhu untuk bersuci, sehingga jika memungkinkan, dia dapat kembali bergabung dalam shalat jamaah tersebut. Saat bergabung yang kedua ini, dia akan menjadi makmum masbuk.
Merasa Malu atau Ragu untuk Meninggalkan Tempat Shalat Jamaah.
Biasanya jamaah akan merasa ragu dan enggan untuk meninggalkan tempat karena takut melewati jamaah lainnya. Namun, hal ini harus tetap dilakukan. Agar tak terkesan menginjak jamaah lainnya, usahakan ketika mereka sedang duduk atau sujud agar memudahkan untuk mencari jalan keluar dari barisan.
Sunday, February 5, 2012
Keutamaan dan Keimanan Asiyah
Aisyah ini merupakan salah seorang istri dari Raja Fir'aun.
Beliau merupakan teladan umat islam lain sekarang maupun nantinya. Meskipun seorang istri dari Raja yang terkenal bengis dan kejam, namun Aisyah selalu taat dan berbakti kepada Allah SWT.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
Sekalipun isteri seorang kafir, apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam surga.
Dari ayat tersebut sangat jelas, bahwa Aisyah sangat menentang dengan kezaliman yang dilakukan oleh suaminya hingga Aisyah berdoa kepada Allah SWT agar diselamatkan dari Fir'aun.
Keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari anak turunnya siapa dan darimana asalanya. Sekalipun ayahnya seseorang yang berlaku maksiat, mungkin saja anak turunnya nanti akan menjadi seorang yang ahli ibadah.
Beliau merupakan teladan umat islam lain sekarang maupun nantinya. Meskipun seorang istri dari Raja yang terkenal bengis dan kejam, namun Aisyah selalu taat dan berbakti kepada Allah SWT.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
Sekalipun isteri seorang kafir, apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam surga.
Dari ayat tersebut sangat jelas, bahwa Aisyah sangat menentang dengan kezaliman yang dilakukan oleh suaminya hingga Aisyah berdoa kepada Allah SWT agar diselamatkan dari Fir'aun.
Keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari anak turunnya siapa dan darimana asalanya. Sekalipun ayahnya seseorang yang berlaku maksiat, mungkin saja anak turunnya nanti akan menjadi seorang yang ahli ibadah.
Saturday, February 4, 2012
Urutan Juz dan Surat Al Quran
Juz Surat dalam Al Quran
1 Al Faatihah 1
2 Al Baqarah 142
3 Al Baqarah 253
4 Ali 'Imran 92
5 An Nisaa' 24
6 An Nisaa' 148
7 Al Maa-idah 83
8 Al An'aam 11
9 Al A'raaf 88
10 Al Anfaal 41
11 At Taubah 94
12 Huud 6
13 Yusuf 53
14 Al Hijr 2
15 Al Israa' 1
16 Al Kahfi 75
17 Al Anbiyaa' 1
18 Al Mu'minuun 1
19 Al Furqaan 21
20 An Naml 60
21 Al 'Ankabuut 45
22 Al Ahzab 31
23 Yaasiin 22
24 Az Zumar 32
25 Fushshilat 47
26 Al Ahqaaf 1
27 Adz Dzaariyaat 31
28 Al Mujaadilah 1
29 Al Mulk 1
30 An Naba' 1
1 Al Faatihah 1
2 Al Baqarah 142
3 Al Baqarah 253
4 Ali 'Imran 92
5 An Nisaa' 24
6 An Nisaa' 148
7 Al Maa-idah 83
8 Al An'aam 11
9 Al A'raaf 88
10 Al Anfaal 41
11 At Taubah 94
12 Huud 6
13 Yusuf 53
14 Al Hijr 2
15 Al Israa' 1
16 Al Kahfi 75
17 Al Anbiyaa' 1
18 Al Mu'minuun 1
19 Al Furqaan 21
20 An Naml 60
21 Al 'Ankabuut 45
22 Al Ahzab 31
23 Yaasiin 22
24 Az Zumar 32
25 Fushshilat 47
26 Al Ahqaaf 1
27 Adz Dzaariyaat 31
28 Al Mujaadilah 1
29 Al Mulk 1
30 An Naba' 1
Friday, February 3, 2012
Anjuran Untuk Selalu Membaca Al Quran
Al Qur'an itu bisa mensucikan jiwa apabila dibaca.
Hanya orang-orang yang memahami ktab Allah SWT, mendirikan shalat dan bernafkah di jalan Allah SWT itulah orang yang mengharap pahala kekal.
Allah SWT memberi anjuran kepada manusia untuk setiap saat membaca Al Qur'an karena keutamannya. Setidaknya ada 4 buah ayat yang menganjurkan agar kita membaca Al Qur'an.
Artinya:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Al-'Ankabuut: 45)
Artinya:
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui."
(QS. Al-Ahzab: 34).
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi"
(QS. Al-Faathir: 29).
Artinya:
"Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa"
(QS. Al-A'laa: 6).
Hanya orang-orang yang memahami ktab Allah SWT, mendirikan shalat dan bernafkah di jalan Allah SWT itulah orang yang mengharap pahala kekal.
Allah SWT memberi anjuran kepada manusia untuk setiap saat membaca Al Qur'an karena keutamannya. Setidaknya ada 4 buah ayat yang menganjurkan agar kita membaca Al Qur'an.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Al-'Ankabuut: 45)
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
Artinya:
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui."
(QS. Al-Ahzab: 34).
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi"
(QS. Al-Faathir: 29).
سَنُقْرِئُكَ فَلا تَنْسَى
Artinya:
"Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa"
(QS. Al-A'laa: 6).
Thursday, February 2, 2012
Amal yang Tak Tertolak
Para alim ulama sepakat bahwa membaca shalawat itu pasti diterima amalnya. Amal ibadah itu ada kalanya diterima dan ada yang ditolak. Lain halnya dengan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.
Itulah diantara keistimewaan membaca shalawat.
Allah SWT membalas dan memberi pahala kepada seseorang yang membaca shalawat satu kali, dengan dilipatkan sepuluh kali dan ditempatkan di surga.
Betapa pemurahnya Allah SWT hingga membaca shalawat sekali saja dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.
Mari kita membaca shalawat Nabi sebanyak-banyaknya.
Adapun orang yang tidak membaca shalawat termasuk bakhil.
Dan orang yang bakhil itu adalah orang yang disebut nama Nabi SAW namun dia tidak mau membaca shalawat. Dan orang seperti itu adalah orang yang lupa akan menuju surga.
Itulah diantara keistimewaan membaca shalawat.
Allah SWT membalas dan memberi pahala kepada seseorang yang membaca shalawat satu kali, dengan dilipatkan sepuluh kali dan ditempatkan di surga.
Betapa pemurahnya Allah SWT hingga membaca shalawat sekali saja dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.
Mari kita membaca shalawat Nabi sebanyak-banyaknya.
Adapun orang yang tidak membaca shalawat termasuk bakhil.
Dan orang yang bakhil itu adalah orang yang disebut nama Nabi SAW namun dia tidak mau membaca shalawat. Dan orang seperti itu adalah orang yang lupa akan menuju surga.
Wednesday, February 1, 2012
Urutan Surat Al Qur'an | Jumlah Surat Al Quran
No. Surat Jml. ayat
1 Al Faatihah 7
2 Al Baqarah 286
3 Ali 'Imran 200
4 An Nisaa' 176
5 Al Maa-idah 120
6 Al An'am 165
7 Al A'raaf 206
8 Al Anfaal 75
9 At Taubah 129
10 Yunus 109
11 Huud 123
12 Yusuf 111
13 Ar Ra'd 43
14 Ibrahim 52
15 Al Hijr 99
16 An Nahl 128
17 Al Israa' 111
18 Al Kahfi 110
19 Maryam 98
20 Thaahaa 135
21 Al Anbiyaa' 112
22 Al Hajj 78
23 Al Mu'minuun 118
24 An Nuur 64
25 Al Furqaan 77
26 Asy Syu'araa' 227
27 An Naml 93
28 Al Qashash 88
29 Al 'Ankabuut 69
30 Ar Ruum 60
31 Luqman 34
32 As Sajdah 30
33 Al Ahzab 73
34 Saba' 54
35 Faathir 45
36 Yaasiin 83
37 Ash Shaaffat 182
38 Shaad 88
39 Az Zumar 75
40 Al Mu'min 85
41 Fushshilat 54
42 Asy Syuura 53
43 Az Zukhruf 89
44 Ad Dukhaan 59
45 Al Jaatsiyah 37
46 Al Ahqaaf 35
47 Muhammad 38
48 Al Fath 29
49 Al Hujuraat 18
50 Qaaf 45
51 Adz Dzariyaat 60
52 Ath Thuur 49
53 An Najm 62
54 Al Qamar 55
55 Ar Rahmaan 78
56 Al Waaqi'ah 96
57 Al Hadiid 29
58 Al Mujaadilah 22
59 Al Hasyr 24
60 Al Mumtahanah 13
61 Ash Shaff 14
62 Al Jumu'ah 11
63 Al Munaafiquun 11
64 At Taghaabun 18
65 Ath Thalaaq 12
66 At Tahriim 12
67 Al Mulk 30
68 Al Qalam 52
69 Al Haaqqah 52
70 Al Ma'aarij 44
71 Nuh 28
72 Al Jin 28
73 Al Muzzammil 20
74 Al Muddatstsir 56
75 Al Qiyaamah 40
76 Al Insaan 31
77 Al Mursalaat 50
78 An Naba' 40
79 An Nazi'at 46
80 'Abasa 42
81 At Takwiir 29
82 Al Infithaar 19
83 Al Muthaffifiin 36
84 Al Insyiqaaq 25
85 Al Buruuj 22
86 Ath Thaariq 17
87 Al A'laa 19
88 Al Ghaasyiyah 26
89 Al Fajr 30
90 Al Balad 20
91 Asy Syams 15
92 Al Lail 21
93 Adh Dhuhaa 11
94 Alam Nasyrah 8
95 At Tiin 8
96 Al 'Alaq 19
97 Al Qadr 5
98 Al Bayyinah 8
99 Al Zalzalah 8
100 Al 'Aadiyaat 11
101 Al Qaari'ah 11
102 At Takaatsur 8
103 Al 'Ashr 3
104 Al Humazah 9
105 Al Fiil 5
106 Quraisy 4
107 Al Maa'uun 7
108 Al Kautsar 3
109 Al Kaafiruun 6
110 An Nashr 3
111 Al Lahab 5
112 Al Ikhlash 4
113 Al Falaq 5
114 An Naas 6
1 Al Faatihah 7
2 Al Baqarah 286
3 Ali 'Imran 200
4 An Nisaa' 176
5 Al Maa-idah 120
6 Al An'am 165
7 Al A'raaf 206
8 Al Anfaal 75
9 At Taubah 129
10 Yunus 109
11 Huud 123
12 Yusuf 111
13 Ar Ra'd 43
14 Ibrahim 52
15 Al Hijr 99
16 An Nahl 128
17 Al Israa' 111
18 Al Kahfi 110
19 Maryam 98
20 Thaahaa 135
21 Al Anbiyaa' 112
22 Al Hajj 78
23 Al Mu'minuun 118
24 An Nuur 64
25 Al Furqaan 77
26 Asy Syu'araa' 227
27 An Naml 93
28 Al Qashash 88
29 Al 'Ankabuut 69
30 Ar Ruum 60
31 Luqman 34
32 As Sajdah 30
33 Al Ahzab 73
34 Saba' 54
35 Faathir 45
36 Yaasiin 83
37 Ash Shaaffat 182
38 Shaad 88
39 Az Zumar 75
40 Al Mu'min 85
41 Fushshilat 54
42 Asy Syuura 53
43 Az Zukhruf 89
44 Ad Dukhaan 59
45 Al Jaatsiyah 37
46 Al Ahqaaf 35
47 Muhammad 38
48 Al Fath 29
49 Al Hujuraat 18
50 Qaaf 45
51 Adz Dzariyaat 60
52 Ath Thuur 49
53 An Najm 62
54 Al Qamar 55
55 Ar Rahmaan 78
56 Al Waaqi'ah 96
57 Al Hadiid 29
58 Al Mujaadilah 22
59 Al Hasyr 24
60 Al Mumtahanah 13
61 Ash Shaff 14
62 Al Jumu'ah 11
63 Al Munaafiquun 11
64 At Taghaabun 18
65 Ath Thalaaq 12
66 At Tahriim 12
67 Al Mulk 30
68 Al Qalam 52
69 Al Haaqqah 52
70 Al Ma'aarij 44
71 Nuh 28
72 Al Jin 28
73 Al Muzzammil 20
74 Al Muddatstsir 56
75 Al Qiyaamah 40
76 Al Insaan 31
77 Al Mursalaat 50
78 An Naba' 40
79 An Nazi'at 46
80 'Abasa 42
81 At Takwiir 29
82 Al Infithaar 19
83 Al Muthaffifiin 36
84 Al Insyiqaaq 25
85 Al Buruuj 22
86 Ath Thaariq 17
87 Al A'laa 19
88 Al Ghaasyiyah 26
89 Al Fajr 30
90 Al Balad 20
91 Asy Syams 15
92 Al Lail 21
93 Adh Dhuhaa 11
94 Alam Nasyrah 8
95 At Tiin 8
96 Al 'Alaq 19
97 Al Qadr 5
98 Al Bayyinah 8
99 Al Zalzalah 8
100 Al 'Aadiyaat 11
101 Al Qaari'ah 11
102 At Takaatsur 8
103 Al 'Ashr 3
104 Al Humazah 9
105 Al Fiil 5
106 Quraisy 4
107 Al Maa'uun 7
108 Al Kautsar 3
109 Al Kaafiruun 6
110 An Nashr 3
111 Al Lahab 5
112 Al Ikhlash 4
113 Al Falaq 5
114 An Naas 6
Etika Berdoa dalam Al Qur'an
Dalam berdoa, ada etika yang ahrus dipenuhi agar setiap permohonan kita dikabulkan oleh ALlah SWT.
Adapun etika berdoa, kita ambil saja langsung dari ayat Suci Al Qur'an dengan beberapa poin di bawah ini.
Setidaknya ada 3 point penting yang menjadi cikal bakal terkabulnya doa yang kita panjatkan.
Etika dalam berdoa adalah:
1. Ikhlas.
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ٢٩
Artinya:
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[533] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)".
(QS. Al-A'raf: 29)
[533] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ ٢٢
Artinya:
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur".
(QS. Yunus: 22).
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ٦٥
Artinya:
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya[1158]; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)
(QS. Al-Ankabuut: 65).
[1158] Maksudnya: dengan memurnikan ketaatan semata-mata kepada Allah.
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ ٣٢
Artinya:
"Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus[1186]. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar."
(QS. Luqman: 32).
[1186] Yang dimaksud dengan jalan yang Lurus Ialah: mengakui ke-esaan Allah.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ١٤
14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
(QS. AL-Mu'min: 14).
هُوَ الْحَيُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٦٥)
Artinya:
"Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
(QS. Al-Mu'min: 65).
2. Berdoa dengan Suara Pelan.
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ٥٥
Artinya:
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]."
QS. Al-A'raf: 55).
[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ٢٠٥
Artinya:
"Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai."
QS. Al-A'raf: 205).
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا ١١٠
Artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[870] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
(QS. Al-Israa': 110).
[870] Maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma'mum.
3. Mengulang-ulang Doa.
وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ ٤٥
Artinya:
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."
QS. Huiud: 45).
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤
Artinya:
ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku."
(QS. Maryam: 4).
Itulah etika berdoa yang telah diajarkan Allah SWT melalui Rasululah SAW kepada kita semua.
Jadi sedapat mungkin, jangalah menyerah untuk berdoa kalau permohonan kita belum dikabulkan oleh Allah SWT. Jelas dalat Al Qur'an kita disuruh untuk mengulang-ulang doa meskipun sampai ubanan ya harus tetap berdoa biar bisa terkabul.
Adapun etika berdoa, kita ambil saja langsung dari ayat Suci Al Qur'an dengan beberapa poin di bawah ini.
Setidaknya ada 3 point penting yang menjadi cikal bakal terkabulnya doa yang kita panjatkan.
Etika dalam berdoa adalah:
1. Ikhlas.
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ٢٩
Artinya:
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[533] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)".
(QS. Al-A'raf: 29)
[533] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ ٢٢
Artinya:
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur".
(QS. Yunus: 22).
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ٦٥
Artinya:
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya[1158]; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)
(QS. Al-Ankabuut: 65).
[1158] Maksudnya: dengan memurnikan ketaatan semata-mata kepada Allah.
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ ٣٢
Artinya:
"Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus[1186]. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar."
(QS. Luqman: 32).
[1186] Yang dimaksud dengan jalan yang Lurus Ialah: mengakui ke-esaan Allah.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ١٤
14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
(QS. AL-Mu'min: 14).
هُوَ الْحَيُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٦٥)
Artinya:
"Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
(QS. Al-Mu'min: 65).
2. Berdoa dengan Suara Pelan.
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ٥٥
Artinya:
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]."
QS. Al-A'raf: 55).
[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ٢٠٥
Artinya:
"Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai."
QS. Al-A'raf: 205).
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا ١١٠
Artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[870] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
(QS. Al-Israa': 110).
[870] Maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma'mum.
3. Mengulang-ulang Doa.
وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ ٤٥
Artinya:
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."
QS. Huiud: 45).
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤
Artinya:
ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku."
(QS. Maryam: 4).
Itulah etika berdoa yang telah diajarkan Allah SWT melalui Rasululah SAW kepada kita semua.
Jadi sedapat mungkin, jangalah menyerah untuk berdoa kalau permohonan kita belum dikabulkan oleh Allah SWT. Jelas dalat Al Qur'an kita disuruh untuk mengulang-ulang doa meskipun sampai ubanan ya harus tetap berdoa biar bisa terkabul.