Wednesday, March 31, 2010

Domba Ummu Ma'bad

Nabi Muhammad SAW mengusap kantong kelenjar susu domba milik Ummu Ma'bad dengan menyebut asama Alloh dan berdo'a.Seketika itu juga kantong kelenjar domba itu menggelembung dan membesar.Nabi Muhammad meminta bejana milik Ummu Ma'bad lalu memerah susunya dan menadahnya dengan bejana tersebut.Susu itu beliau berikan kepada Ummu Ma'bad yang kemudian langsung meminumnya hingga kenyang.Beliau juga memberikan susu itu kepada rekan-rekannya hingga mereka kenyang.Baru kemudian beliau sendiri yang minum.Lalu Nabi memerah susu lagi hingga bejana itu penuh alalu meninggalkannya untuk Ummu Ma'bad.Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Tak seberapa lama kemudian suami Ummu Ma'bad datang sambil menggiring domba-domba yang kurus dan lemah.Dia tak sanggup menutupi keheranannya tatkala melihat ada susu di samping istrinya.

Rasulullah Singgah di Serambinya Ummu Ma’bad

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menagkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu.Mereka memikirkan tipu daya itu dan Alla sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS.Al Anfal 30).
Begitulah Allah SWT menggambarkan betapa mencekamnya keadaan yang dialami Nabi Muhammad SAW pada detik-detik menjelang hijrah.Di saa-saat yang genting itu, Allah memerintah Nabi agar segera hijrah ke Madinah.Dengan ditemani Abu baker, Rasulullah berangkat ke kota yang dikenal sebagai Madinah Al Munawarah.

Di tengah perjalanan, Nabi dan Abu Bakar melewati tenda Ummu Ma’bad.Dia adalah seorang wanita yang terkenal, sabar, dan tekun.Ia biasa duduk di serambi tendanya memberi makan dan minum kepada siapapun yang melewati tendanya.Saat melewatinya, Rasulullah dan Abu Bakar meminta sesuatu kepadanya.

Namun kali ini Ummu Ma’bad sedang tidak punya apa-apa.”Demi Allah, andaikan kami punya sesuatu, tentulah kalian tidak akan kesulitan mendapatkan suguhan.Sementara domba-domba kami tidak ada yang bunting dan ini adalah tahun paceklik,:jawab ummu Ma’bad.

Sunday, March 28, 2010

Kenal Tapi Tak Sayang

“Orang-orang (yahudi dan nasrani) yang telah beri kami Al kitab ( Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui” (QS.Al Baqoroh 146).
Demikian Allah SWT membeberkan salah satu tabiat ahli kitab.Meski mengetahui sifat-sifat Nabi Muhammad SAW di dalam kitab, kebanyakan dari mereka malah mengingkari dan menolak risalah Beliau.Bahkan mereka secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi memusuhi Nabi akhir zaman itu.

Sejak Awal Memusuhi
Hal ini bias diketahui dengan jelas seperti diriwayatkan Ibnu Ishaq dari Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab ra, salah satu istri Nabi SAW dari kalangan Bani Quraizhah yang masuk islam sebelum dinikahi Nabi SAW>
Shafiyyah bertutur:”Aku adalah anak yang paling disyangi ayahku da juga pamanku, Abu Yasir.Setiap kali aku bertemu, tentu mereka berdua akan menggendongku dan melepaskan anak yang lain yang sedang digendongnya”
“Tatkala Rasulullah SAW singgah di QUba’ tepatnya di kampong Bani Amr bin Auf dalam misi hijrah ke madinah,”lanjut Safiyyah,”Maka ayahku dan pamanku pergi kesana pada malam hari.Keduanya tidak kembali kecuali setelah matahari terbenam pada keesokan harinya.Mereka berdua terlihat malas, loyo, tanpa semangat dan berjalan pelan-pelan.Aku segera menghampiri mereka berdua seperti biasanya.Namun demi Allah, tak seorangpun diantara mereka berdua mau menoleh ke arahku.Mereka terlihat murung.Kudengar pamanku bertanya pada ayahku,”Diakah orangnya?”
“Demi Allah, memang dia,”jawab ayahku.
“Apakah engkau yakin?”
“Ya”.
“Apa yang kau pikirkan tentang dirinya?”
“Demia Allah, aku akan memusuhinya selagi aku masih hidup,”jawab ayahku.

Hal ini juga dikuatkan oleh riwayat Al Bukhari tenatang keisalam Abdullah bin Salam (dalam Sirah Nabawiyah oleh Shafiyyurahman Al Mubarakfury).
Sebelumnya, Abdullah bin Salam adalah ulama yahudi yang tersohor.Tatkala mendengar kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, dia cepat-cepat menemui beliau dan mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak bias dipahami kecuali oleh seorang Nabi.Maka tatkala mendengar jawaban-jawaban yang disampaikan Nabi, seketika itu pula dia masuk Islam.

Kemudian Abdullah bin Salam berkata kepada Nabi SAW,”Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang suka mendustakan.Jika mereka tahu aku sudah masuk Isalam sebelum engkau bertanya kepada mereka, tentu jawaban mereka akan menjadi lain selagi mereka masih berada dihadapan engkau.”

Yahudi Mendustakan Nabi SAW
Saat Rasulullah SAW mengundang orang-orang Yahudi, Abdullah bin Salam sembunyi di dalam rumah Nabi.Nabipun bertanya kepad orang-orang,”Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di tengah kalian?”
“Dia adalah orang paling banyak ilmunya di antara kami dan anak dari orang yang paling banyak ilmunya di antara kami.Dia adalah orang paling mulia di antara kami dan anakorang paling mulia diantara kami.Dia juga pemimpin kami dan anak pemimpin kami.”
“Apa pendapat kalian jika dia masuk Islam?”tanya Nabi SAW.
“Itu tidak mungkin terjadi,”jawab mereka hingga tiga kali.

Lalu Abdullah bin Salam menampakkan diri sembari berkata,”Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah.Sesungguhnya dia dating dengan kebenaran.”
“Engkau dusta,”sahut mereka.
Ini merupakan pelajaran dan pengalaman pertama yang diterima Rasulullah SAW dalam menghadapi orang-orang Yahudi pada hari pertama beliau memasuki Madinah.Meski telah mengenal sebelumnya, kaum Yahudi dan Nasrani justru menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa masalah yang menyulitkan hidup mereka.Bagaimana dengan kita?
Reff:Kutipan dari Majalah Al Falah